Pindah Rumah, Barokah
SEPULUH hari sudah, keluarga muda Irsan dan Donna menempati sebuah rumah baru dikawasan komplek perumahan di Banjarbaru yang menurut pandangan umum rumahnya megah, mewah, dan besar banget. Infrastruktur rumahnya, lengkap. Mulai dari tempat menjemur, sumur pompa, air berkaporit ala PDAM, garasi motor maupun mobil, balkon teras rumah yang berkeramik, gudang, ruang pertemuan yang luas nota bene bisa gasan senam dua puluhan orang, listrik, telepon kabel yang rencana mau dipasang speedy, ruang makan, wastaple dapur, sampai pada pohon buah-buahan.
Fosil Indonesia-ku
KEMERDEKAAN Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada tahun ini telah memasuki usia 62 tahun. Kalau kita perhitungkan berdasar rentang usia manusia, maka Indonesia sudah memasuki lansia alias lanjut usia. Masa ini merupakan rentang masa bijaksana, penuh pengalaman, bisa melihat kekurangan diri dan memperbaiki hal-hal yang kurang pas pada masa-masa sebelumnya sehingga seharusnya terkesan kedewasaannya dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam hal ini kehidupan bernegara.
Aku Nikah Muda
TERBAYANG oleh kita betapa bahagianya seorang yang baru saja melangsungkan ritual sakral, pernikahan. Terlebih lagi jika yang menikah, diri kita sendiri. Betapa ‘sumringah’ hati kita, tatkala me-lafaz-kan ijab qobul dengan lancar tanpa diulang dengan disambut doa para tamu undangan melalui ucapan “barokallahu laka wabaroka alaika…”.
Analisiku aja
MASIH hangat ingatan kita atas kasus penganiayaan suami istri yang berbuntut kematian. Banjarbaru, nama kotanya. Sebagian dari Sampeyan mungkin telah mengenal siapa sosok Muliyadi, terutama kerabat, dang sanak, rekan kerja sesama karyawan di cuci mobil Metropolis Banjarbaru. Sedang yang saya tahu tentang Muliyadi, khususnya hanya dari media cetak maupun elektronik, sidin adalah seorang pemuda. Dan saya yakin itu, setelah saya melihat face-nya secara langsung walaupun hanya di televisi atau foto. Tak kalah pentingnya, yang perlu Sampeyan dan kita ketahui, bahwa anak perempuan dari korban penganiayaan itu juga seorang pemuda juga, Rahmadani Hardiyanti, namanya.
Psikologiku
Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*
(Menu ‘penemuan’ Irsan style).
SAYA yakin psikologi itu tidak terbatas pada lini kehidupan apa saja, dengan kata unlimited. Artinya, siapa pun, dimana pun, kapan pun, dalam keadaan apapun, profesi apa pun, rentang usia berapa pun, bahkan mau ngapain sekali pun, psikologi berperan disana. Intinya, saya menggunakan bumbu bergaram, garam beryodium, untuk menyadarkan saya dan kolega. Agak didramatisir memang, yang dimaksudkan untuk menyentuh pembaca.
Kepemudaanmu Diuji
Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*
DAMBAAN semasa kecil, menjadi orang yang berguna bagi agama, bangsa, negara, dan kampung halaman. Itulah cita-cita yang diharapkan banyak orang, bahkan semua orang mungkin. Realitas masyarakat di banua kita tercinta, banyak yang menyekolahkan anak-anaknya ke propinsi lain, yang menurut kaca mata orang kebanyakan adalah kota pendidikan. Entah itu Daerah Istimewa Jogjakarta, Kota Malang atau kota lainnya.
Peran Psikolog Hanya Tukang Tes?
Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*
Heninglah suasana ruangan, sebesar apa pun ukurannya saat pelaksanaan psikotes atau tes psikologi, sudah jamak adanya. Bagi yang pernah mengikuti, pasti pernah mengalami, bahkan mungkin mencekam. Sebagaimana pengakuan seorang testee (peserta tes) yang berdiskusi saat rehat dengan saya. Apakah karena psikolognya galak atau psikotes harus menegangkan?.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Archives
- December 2009 (1)
- November 2009 (1)
- October 2009 (4)
- September 2009 (2)
- August 2009 (2)
- July 2009 (4)
- June 2009 (6)
- May 2009 (5)
- April 2009 (2)
- March 2009 (3)
- February 2009 (6)
- January 2009 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
Nama panggilan saya : Irsan. Lahir di Jogjakarta, pada hari Selasa 30 Agustus 1977. Saat ini berdomisili di Jln. A.Yani KM.25 Gang Damai no 46 Rt 26 RW.VII Landasan Ulin Banjarbaru 70724, Telp 746 5836, 0815 215 77400 Email: irsan_global@yahoo.co.id dan