Jangan Paksakan ‘bakmi’ Pada Anak
Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*
SERING kita mendapati disekitar tempat tinggal kita, seorang anak yang tidak punya waktu bergaul bersama anak sebayanya. Entah disebabkan ‘larangan’ dari orang tuanya agar tidak ‘keluyuran’ atau memang kesibukan si anak tersebut lantaran harus menggugurkan kewajibannya mengikuti berbagai macam kegiatan tambahan, mulai dari les matematika, bahasa inggris, les musik, les olah vokal, sampai pada les terkait fisik, sepak bola atau beladiri, misalnya.
Pagi hari mengikuti pendidikan di sekolah formal hingga tengah hari. Sepulang dari sekolah, istirahat siang lalu aktivitas rutin dimulai kembali, yakni menyambangi guru privat berbagai keterampilan, yang telah terjadual selama satu pekan. Hal ini berlangsung setiap hari tanpa ada jeda hari untuk mengistirahatkan fisik dan psikis. Sehingga setelah berjalan sekian bulan, anak mulai ‘menikmati’ masanya seperti tahap masa dewasa yang selalu ditutut beraktivitas padat dan lebih dari kemampuannya.
Kondisi lingkungan privat atau kursus mengharuskan anak agar mengerjakan PR alias pekerjaan rumah. Sampai dirumah sore hari menjelang petang, anak dituntut untuk bersih-bersih badan, lepas itu anak mengerjakan PR-nya, baik PR dari sekolah maupun privat. Sehabis mengerjakan pekerjaan rumah, anak sudah lelah hingga tertidur lelap. Saya tekankan kembali, si anak tertidur lelap, bukannya tidur. Dimana dong, kesempatan anak bersosialisasi dengan peer group-nya, bermasyarakat, mengembangkan fitrah kemanusiaannya terkait makhluk sosial, kapan anak melihat dunia nyata yang penuh dengan permainan pada masanya, main kelereng, petak umpet, kejar-kejaran, bahkan bermain peran bersama teman sebayanya, kapan dong?
Terkungkunglah jiwa si anak gara-gara kesibukannya yang luar biasa setiap harinya. Maaf contoh kasus di atas merupakan kasus ekstrim untuk sekedar menyadarkan kita, manusia dewasa yang disebut sebagai orang tua ‘bijaksana’. Wahai orang tua, saya yakin bahwa sampeyan sewaktu masa anak, remaja, atau pemuda dulu pernah mempunyai cita-cita yang boleh jadi belum tercapai atau nyaris terlaksana. Terpikir oleh kita, cita-cita tersebut akan diwariskan kepada sang anak, atau bahasa gampangnya anak dipaksakan untuk melanjutkan cita-cita anda yang belum tercapai. Walhasil, setelah dievaluasi, ketidakberhasilan anda dulu lantaran kurangnya daya dukung berupa guru privat, anda berpikir agar anak sukses harus ikut kursus atau privat.
Nah, disini anda cerdas bisa mengevaluasi penyebab ketidaksuksesan anda. Tapi ingat, ketidaksuksesan anda zaman dulu jangan sampai membebani anak, karena seorang anak juga manusia. Artinya, dia punya kemampuan dan juga keterbatasan, punya cita-cita dan keinginan sendiri yang sesuai minat bakatnya, punya lingkungan sosial yang mengharuskan berperilaku wajar bagi anak seusianya. Kalau mau fair, anda harus gali kemampuan anak, tidak usahlah muluk-muluk. Silakan gali melalui kecenderungan si anak, minat dan bakatnya yang menonjol. Perlu diingat, bukan paksaan.
Manusia yang dilahirkan di muka bumi ini pasti membawa potensi fitrahnya masing-masing, artinya kita sebagai orang tua tinggal memotivasi, mengembangkan, dan mengarahkan anak agar sampai pada terminal yang sesuai dengan kecenderungannya tadi. Kesulitan orang tua dalam menggali bakat si anak, akan membuat anak maupun orang tua menjadi ‘sembarangan’ dalam meniti karir kehidupannya. Yakni tabrak sana-tabrak sini, ikut les sana-ikut les sini, ikut bimbel sana-bimbel sini, nimbrung kursus sana-kursus sini yang ‘jluntrungnya’ belum jelas. Wah..gawat lho.
Sebenarnya, gampang saja untuk mengetahui ‘muyul’ atau kecenderungan si anak, kita fasilitasi saja apa kemauan anak, asalkan tidak membahayakan. Hitung frekuensi keterlibatan anak dengan kegiatan atau keterampilan tersebut. Lalu evaluasi secara berkala, tapi harus libatkan anak dalam mengevaluasinya. Tanyakan komentar anak mengenai kegiatan yang dilakukannya, dan matching-kan dengan pengamatan orang tua atau pengawas lainnya. Hasilnya kita cross cheque dengan nilai formal anak di sekolah atau di kursus-an, jika memunculkan nilai dan jika memang ikut kursus. Tapi jika tidak kursus, ya cukup penilaian orang tua saja. Ketemu sudah.
Kalau ternyata, kita belum mantap terhadap hasil evaluasi kita, cukup libatkan ahlinya dalam pengukuran ‘bakmi’ sang anak alias bakat minat sang anak. Oke? Semoga sukses mendidik dan mengoptimalkan ‘bakmi’ anak Sampeyan. Wallahu a’lam.***
* Psychologist Consultant pada GLOBAL solusi BJB
2 Comments »
Leave a comment
-
Archives
- October 2009 (4)
- September 2009 (2)
- August 2009 (2)
- July 2009 (4)
- June 2009 (6)
- May 2009 (5)
- April 2009 (2)
- March 2009 (3)
- February 2009 (6)
- January 2009 (4)
- December 2008 (5)
- November 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
Nama panggilan saya : Irsan. Lahir di Jogjakarta, pada hari Selasa 30 Agustus 1977. Saat ini berdomisili di Jln. A.Yani KM.25 Gang Damai no 46 Rt 26 RW.VII Landasan Ulin Banjarbaru 70724, Telp 746 5836, 0815 215 77400 Email: irsan_global@yahoo.co.id dan
Wah, ternyata susah juga ya mendidik anak sesuai ‘bakmi’nya, saya pingin tuh mengetahui bakmi saya! Tolong dhonk, mas.
nuwun
Boleh aja, silakan datang ke alamat biro-ku, okey?!…
Yes, anda pasti bisa. InsyaALLAH.