Noor Irsan Finazli

Just another WordPress.com weblog

Jawaban Psikotes Saya, sesuai Norma lho Pak

Assalamu’alaikum, Pak. Lewat rubik ini mohon bantuannya bagaimana cara menghadapi phsycotest dalam upaya memperoleh suatu jabatan dalam kedinasan dimana saya kerja,saya pernah mengikuti phsycotest baik grafik dengan gambar ataupun lainnya dengan test pengisian soal-soal lain tapi sampai sekarang saya tidak mengerti apa sebenarnya kreterianya agar dapat sesuai dengan soal-soal yang diujikan karena apa yang saya jawab adalah sesuai dengan hatinurani dan tentunya sesuai kode etik dalam norma masyarakat, jadi intinya tidak menyimpang dari norma yang ada baik hukum maupun tatanan dalam masyarakat. Tapi kenyataannya hasilnya, saya tidak lulus juga, untuk itu bagaimanan langkah selanjutnya dalam menghadapi peluang test selanjutnya agar dapat lulus. Terima kasih pak. wasalamu’alaikum wr.wb.

Saudara Willy, yang saya sayangi. Memang apa yang Anda alami adalah juga dialami oleh sebagian besar orang yang merasa menjawab sesuai norma. Mari kita cermati ulasan dibawah ini, yang pernah saya tulis beberapa bulan lalu..

ADA cara pandang yang salah mengenai apa itu sebenarnya psikotes. Tak sedikit dari mereka mengira bahwa psikotes adalah segalanya. Karena banyak diantara yang konsul kepada saya, rata-rata mereka menanyakan tentang ‘kegagalannya’ menghadapi makhluk yang bernama psikotes ini. Banyak sudah, korban dari pemhaman yang salah mengenai psikotes ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, sarjana, guru, bahkan sampai sarjana plus alias program profesi. Beranggapan bahwa tidak lulusnya psikotes atau tidak diterimanya pada jabatan tertentu yang dilamarnya adalah sebuah kegagalan yang harus disesali dengan sangat. Kalau memungkinkan sampai stress, frustasi, dan akhirnya menjatuhkan diri kelembah nista.

Namun tak sedikit yang sampai pada ganguan bahkan sakit jiwa. Contoh kasus, seorang pegawai perusahaan swasta yang merasa gagal dalam menghadapi psikotes promosi jabatan. Dia melampiaskannya dengan tanya sana-sini yang intinya merasa dirinya gagal total dalam menghadapi psikotes sehinggga tidak lulus. Menganggap dirinya bodoh, pecundang, tidak becus, dst.

Ada lagi, seorang sarjana yang merasa gagal tapi tidak menerima kegagalannya. Dengan menanggap bahwa psikotesnya tidak akurat, tidak ada gunanya tuh psikotes. Psikotes tidak berguna dalam menentukan kelayakan sesorang menduduki posisi tertentu. Lebih-lebih kepribadian seseorang kok bisa dites hanya dengan menggambar, menjawab soal peryataan pilihan dan dari interview. Alat tes-nya sama, kok bisa mengungkap hasil yang berbeda-beda pada tiap orang. Harusnya kan sama dhong, lha wong soalnya sama, berarti kepriadian semua orang sama, pilihan jawabannya itu-itu juga. Intinya menyalahkan psikotesnya.

Lain lagi dengan yang ini, tidak ingin dirinya gagal dari psikotes, maka dicarilah buku-buku tentan prediksi soal dan jawaban psikotes. Tidak hanya satu buku, puluhan buku bahkan lebih. Dan ditambah lagi dengan menghubungi psikolog tertentu dengan meminta diajari untuk bisa lulus psikotes, jika memungkinkan minta kunci jawabannya sekalian. Bingung dan membingungkan, memang. Terutama tingkah polah para manusia ini dalam memaknai sebuah psikotes. Semoga Anda yang telah membaca tulisan ini tersadar bahwa psikotes tidaklah seperti yang banyak orang bayangkan, sebagaimana contoh dalam tulisan di atas. Psikotes, dalam menghadapinya tidaklah seperti pandangan diatas. Tetapi psikotes itu hanya sekedar salah satu dari alat ungkap (prediksi) pola perilaku seseorang kebelakang dan kedepannya ketika menghadapi situasi (pekerjaan/ jabatan/ profesi/ mengungkap potensi diri). Langkah selanjutnya, silakan ikuti tulisan berikutnya. Wadamu tawasurinnafsi, janganlah mempersulit diri. Begitulah adanya. Allahu a’lam.***

May 19, 2009 - Posted by irsanfinazli | Psikologi | | 2 Comments

2 Comments »

  1. Psikotes hanyalah suatu penilaian naluri seseorang kepada orang lain, baik buruknya penilaian kadang membuat orang tidak puas dengan hasil yang ada. Namun demikian semua yang terjadi adalah hanya proses kepada hal yang akan dialaminya dan bagaimana seseorang dapat memahami hal itu.

    Comment by M. Kadarisman | June 18, 2009 | Reply

  2. MK : Terimakasih atas komennya. Bagus

    Comment by irsanfinazli | June 25, 2009 | Reply


Leave a comment