Noor Irsan Finazli

Just another WordPress.com weblog

Psikotes yang Jadi Momok, Grafis

DSCN0557

Tes Grafis

Metode lain dalam mengungkap sebuah kepribadian, menggunakan gambar. Gambar apa, ya gambar dari goresan tulisan Anda. Lho, kog. Iya, tulisan atau goresan tulisan Anda itu bisa diprediksi seperti apa sebenarnya kepribadian Anda. Anda diminta menggambarkan sebuah objek gambar tertentu, nah dari hasil gambar tadi dianalisa yang akan menghasikan beberapa penialain terkait kepribadian. Apa yang dinilai, pertama arah coretannya, apakah cenderung kearah luar atau kedalam.

Nah disini jelas mengandung perbedaan dari segi analisanya nanti. Secara gampangnya, individu tersebut cenderung introvert atau ektrovert dalam kepribadiannya secara umum. Kedua, kualitas goresannya seperti apa, kuat , lemah atau bahkan tanpa tekanan sama sekali. Hal ini menunjukkan kualitas kekuatan seseorang, semangat membara, maju terus pantang mundur, kelembekan, kurang motivasi, cenderung mengalah dan sebagainya.

Nah, ini tergantung dari si Individu tersebut dalam kesehariannya, karena tes grafis ini merupakan bagian dari tes proyetif. Ketiga, warna dari gambarnya. Lho kog, iya warna gelap terangnya dari gambar tersebut, cenderung seimbang antara hitam dan putih, hitam atau dominan tanpa hitam. Hitam disini adalah kualitas arsirannya. Gelap sekali arsirannya atau kabur dalam arsirannya. Keempat, lay out gambarnya lebih mengarah kebidang bagian atas, bawah, tengah, cenderung kiri atau kanan dari media yang telah disediakan. Perbedaan pengambilan lay out gambar sangat ditentukan oleh pengalaman hidup masing-masing individu, tidak bisa dibuat-buat dalam pengerjaaan pelepasan proyektifnya. Seseorang yang kesehariannya cenderung penakut atau bimbang dalam mengambil keputusan, hasilnya akan berbeda dengan individu yang tegas dan cepat dalam memutuskan sesuatu. Dalam psikotes yang diterapkan untuk kegunaan pengungkapan kepribadian sesorang, memang tidak bisa dikelabui. Akan ketahuan sesorang tersebut, apakah sungguh-sungguh dalam mengerjakan atau dibuat-buat dalam pengerjaannya. Istilah kerennya faking good or faking bed. Tergantung dari si Individu dalam menilai tujuan dari psikotes tersebut.

Jika posisi yang diharapkan memang disukai, maka akan digunakan faking good, demikian sebaliknya. Tentu saja inilah yang akan mengurnagi validitas dari sebuah tes.

Dari itu semua, terlihat sudah, ternyata yang diungkap dari tes kepribadian adalah kebiasaan-kebiasaan, cara pandang terhadap masalah, kestabilan emosi, pola hubungan atau interaksi baik dengan diri sendiri maupun orang lain, cara pelampiasan tekanan, tingkatan motivasi atau kekuatan semangat, trauma-trauma, bahkan dari tes kepribadian ini bisa dilihat juga taraf kecerdasannya.

June 2, 2009 - Posted by irsanfinazli | Psikologi | | No Comments Yet

No comments yet.

Leave a comment