Tes Sikap Kerja atau Pola Kerja
Ada yang menarik dari kisah kawan, begini ceritanya: Katanya, “Saya baru saja ikut psikotes, tapi tesnya asal-asalan, karena alat tesnya lembarannya kecil dan tidak menggambarkan sebagaimana tes yang pernah saya ikuti beberapa waktu kemarin. Sama sih tes deret angka juga. Kayaknya dia bikin sendiri deh. walhasil ya asal kerjain aja. Yaah untuk mengikuti proses tesnya aja”.
Angka berderet yang tiada ruang kosong diantaranya, itulah kesan pertama yan dirasakan oleh para peserta tes. Mulai dari yang mempersepsi sebagai uji kemampuan berhitung sampai pada uji kecepatan membaca angka dan menjawab dengan menuliskannya pada ruang jawabnya. Tidak ada yang salah apalagi kurang cerdas dalam tes model ini. Hanya saja perlu digarisbawahi bahwa tes deret angka ini merupakan perangkat tes yang bisa dimasukkan dalam kategori golongan tes kepribadian, pola atau sikap kerja, atau tes kecerdasan.
Bergantung pada kelompok tes yang diberikan oleh tester (pengetes). Kenapa saya sebut tester, karena tester tidak melulu harus psikolog. Assessor atau ……. juga bisa. Jika tes deret angka bisa mengungkap kecerdasan atau kekurangcerdasan seseorang, maka dia dimasukkan dalam kategori tes kecerdasan, yang sering disebut sebagai kapasitas intelektual.
Dengan asumsi bahwa tes deret angka masuk dalam salah satu aspek tes kecerdasan. Misalnya, tes yang memunculkan nilai IQ. Dalam rentang rekomendasi rendah-sedang-tinggi atau dibawah rata-rata, rata-rata, atau diatas rata-rata, dan seterusnya.
Tes deret angka bisa mengungkap pola atau sikap kerja seseorang, jika dia termasuk dalam salah satu aspek perangkat tes pengungkap pola atau sikap kerja, tentunya. Sebagai contoh, tes yang mengungkap kecepatan-ketelitian-keteraturan-keajegan dalam mengungkap pola kerja seseorang.
Demikian juga ketika tes deret angka dipakai untuk mengungkap aspek kepribadian seseorang, berarti tes tersebut termasuk dalam salah satu aspek kategori tes kepribadian. Misalnya, ketika memulai tes, peserta tes tadi mencuri start atau dengan kata lain mendahului mengerjakan tugas ketika perintah belum dibolehkan mulai. Dan atau sebaliknya, menambah waktu mengerjakan ketika waktu pengerjaan telah usai.
Nah, hal ini menjadipenilaian tersendiri bagi seseorang tadi dimata tester. Artinya, kekurangjujuran atau berlaku licik. Kapasitas intelektual, pola atau sikap kerja, kepribadian seseorang memang bisa diungkap dengan salah satu alat ungkap tadi.
Hanya saja perlu diingat, tidak bisa dengan serta merta langsung dianggap sebagai orang yang kurang cerdas bahkan bodoh, lambat dalam kerja, atau berkepribadian licik. Sebab, alat ungkap itu hanyalah sebatas prediksi an prediksi, sehingga harus dilihat dari berbagai sudut pandang.
Salah satunya, dengan mengunakan berbagai macam alat tes. Dimana alat tes yang satu dengan lainnya merupakan aspek crosscheque. Asumsinya, dengan berbagai alat tes yang dipakai tadi hasilnya saling menguatkan dan membuktikan tingkat akurasi dalam mengambil sebuah ‘eksekusi’ rekomendasi hasil tes.
Walhasil, keakuratan dalam pengambilan keputusan rekomendasi menjadi lebih bisa dipercaya mendekati keadaan asli dari si peserta tes. Semoga penjelasan yang singkat ini bisa dijadikan sebagai pengobat rasa penasaran akan hasil psikotes nantinya, jika hasilnya tidak sesuai dengan prediksi para peserta tes.
Wallahu a’lam.***
No comments yet.
Leave a comment
-
Archives
- October 2009 (4)
- September 2009 (2)
- August 2009 (2)
- July 2009 (4)
- June 2009 (6)
- May 2009 (5)
- April 2009 (2)
- March 2009 (3)
- February 2009 (6)
- January 2009 (4)
- December 2008 (5)
- November 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
Nama panggilan saya : Irsan. Lahir di Jogjakarta, pada hari Selasa 30 Agustus 1977. Saat ini berdomisili di Jln. A.Yani KM.25 Gang Damai no 46 Rt 26 RW.VII Landasan Ulin Banjarbaru 70724, Telp 746 5836, 0815 215 77400 Email: irsan_global@yahoo.co.id dan