Mosok Remedial ‘Makan’ Remedial, sih ?

Install emosi positif with Hypnotherapy Mitrasolusi

Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli S.Psi CH CHt*

DIAKHIR semester ganjil ini ada orangtua siswa salah satu SD Unggulan di kotaku, curhat mengenai kondisi anaknya yang baru saja menerima rapot sebagai hasil belajarnya. Banyak mata pelajaran yang dinyatakan belum tuntas alias bernilai dibawah kriteria ketuntasan minimal atau KKM. Menariknya, dalam sesi tersebut terungkap bahwa banyak kejanggalan dalam proses menjelang penerimaan rapotnya. Begini, ternyata nilai pada mata pelajarannya yang belum tuntas tersebut adalah hasil dari proses remedial.

Remedial yang dilakukan oleh gurunya, hanyalah proses kulit dari konsep remedial yang sesungguhnya. Apa yang dilakukan? Pada proses remedialnya, Sang Guru hanya memberikan kembali soal yang sama pada anaknya tanpa dibarengi dengan pemberian pembelajaran ulang kepada muridnya. Yaah, bahasa gampangnya mengulang tes dengan soal yang sama. Walhasil, nilai yang didapatkan ternyata masih dibawah KKM. Guru akhirnya mengabarkan kembali kepada orangtua anak, agar mengikuti remedial kembali. Sontak kaget dibenak orangtuanya, “mosok remedial makan remedial?”. Lebih kagetnya lagi, setelah penerimaan rapot hasilnya tetap dibawah KKM.

Saudaraku semua, memang proses mendidik bukanlah proses yang mudah. Bahkan, proses mendidik itu sangat sulit tetapi ingat jika dilakukan secara kontinyu dan progresif tentu hasilnya akan ‘paten’. Sebagai analogi, hasil didikan tadi akan menghasilkan sebuah pohon baru yang akan menjulang tinggi ke langit menghunjam dalam ke bumi dan memberikan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan disekitarnya bahkan tidak mudah mati diterpa angin dan panas. Hasil dari pohon tersebut bisa dimanfaatkan bagi kehidupan makhluk disekitarnya.

Bayangkan, betapa mulianya tugas seorang guru yang bisa menciptakan ‘pohon-pohon’ baru ditengah gersangnya bumi dari kesejukkan yang diharapkan ada.  Dalam tulisan saya ini, bukan dimaksudkan untuk menggurui para guru namun sekedar berbagi dengan tujuan autokritik saya sendiri yang juga seorang pendidik bagi anak saya dan binaan saya. Tentu juga bagi para guru yang memerlukan pemahaman dari sudut pandang orang lain terkait remedial teaching ini.

Saya yakin Anda pasti setuju, usaha membantu siswa mencapai standar isi dan standar kompetensi lulusan, pelaksanaan proses pembelajaran perlu diusahakan agar interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif, serta memberikan kesempatan yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat minat, dan perkembangan psikologis serta fisik siswa sebagai peserta didik.

Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa untuk mencapai tujuan dan prinsip-prinsip pembelajaran pasti dijumpai adanya siswa yang mengalami kesulitan atau masalah dalam belajar. Untuk mengatasi masalah tersebut, setiap satuan pendidikan perlu menyelenggarakan program remedial teaching atau pembelajaran remedial atau perbaikan. Begitu, bukan?.  Oleh karena itu, mari refhesh pemahaman kita terkait dengan tugas mendidik ini, baik orangtua maupun guru disekolah atau siapa pun yang bersentuhan dengan dunia pendidikan.

Begini, bahwa Remedial Teaching merupakan sebuah layanan pendidikan yang diberikan kepada peserta didik dalam hal ini adalah siswa untuk memperbaiki prestasi belajarnya. Dengan sebuah tujuan agar mencapai kriteria ketuntasan yang ditetapkan oleh sekolah. Untuk memahami konsep penyelenggaraan model remedial teaching, terlebih dahulu perlu kita perhatikan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan atau KTSP yang diberlakukan berdasarkan Permendiknas Nomor 22, 23, 24 Tahun 2006, dan Permendiknas Nomor 6 Tahun 2007. Dalam Permendiknas tersebut di atas menerapkan sistem pembelajaran berbasis kompetensi, sistem belajar tuntas, dan sistem pembelajaran yang memperhatikan perbedaan individual dari siswa sebagai peserta didik.

Sistem dimaksud ditandai dengan dirumuskannya secara jelas standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) yang harus dikuasai peserta didik. Penguasaan SK dan KD setiap siswa diukur menggunakan sistem penilaian acuan kriteria. Jika seorang peserta didik mencapai standar tertentu maka peserta didik dinyatakan telah mencapai ketuntasan.

Pelaksanaan pembelajaran berbasis kompetensi dan pembelajaran tuntas, dimulai dari penilaian kemampuan awal peserta didik terhadap kompetensi atau materi yang akan dipelajari. Kemudian dilaksanakan pembelajaran menggunakan berbagai metode seperti ceramah, demonstrasi, pembelajaran kooperatif, inquiry, discovery dan sebagainya.

Melengkapi metode pembelajaran digunakan juga berbagai media seperti media audio, video, dan audiovisual dalam berbagai format, mulai dari kaset audio, slide, video, komputer, multimedia. Ditengah pelaksanaan pembelajaran atau pada saat kegiatan pembelajaran sedang berlangsung, diadakan penilaian proses menggunakan berbagai teknik dan instrumen dengan tujuan untuk mengetahui kemajuan belajar serta seberapa jauh penguasaan peserta didik terhadap kompetensi yang telah atau sedang dipelajari.

Nah baru pada akhir program pembelajaran, diadakan penilaian yang lebih formal berupa ulangan harian. Ulangan harian ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pencapaian belajar siswa, apakah seorang peserta didik gagal atau berhasil mencapai tingkat penguasaan tertentu yang telah dirumuskan pada saat pembelajaran direncanakan.

Setelah itu baru bisa diketahui adanya siswa yang tidak mencapai penguasaan kompetensi yang telah ditentukan, maka muncul permasalahan mengenai apa yang harus dilakukan oleh guru. Salah satu tindakan yang diperlukan adalah pemberian program remedial teaching. Pemberian program remedial ini didasarkan atas latar belakang bahwa pendidik perlu memperhatikan perbedaan individual peserta didik. Nah, baru setelah mereka menerima remedial teaching ditempuhlah ulangan atau ujian lagi sebagai bentuk penilaian kembali yang dapat dipastikan nilainya memenuhi kriteria ketuntasan minimal. Ini pasti. Allahu a’lam.

*Sekretaris Yayasan Generasi Robbani Banjarbaru
Juga Supervisor untuk SDIT Robbani

About these ads

2 responses to “Mosok Remedial ‘Makan’ Remedial, sih ?

  1. ya yaya, sebaiknya begitu dan semoga banyak yg baca.
    alhamdulillah tulisan ini juga dimuat di harian lokal kalimantan selatan. Radar Banjarmasin. Jadi insyaallah guru guru juga pada membaca….
    makasih mas syafii…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s