Anak Siap Didik, Bukan Siap Main

Kemnas di Cibubur JSIT

Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli S.Psi CH CHt
“Tak terasa oleh kita, terkadang membenarkan stigma yang berkembang dimasyarakat kita bahwa psikotes tidaklah perlu. Sebagaimana yang sering diungkapkan oleh seseorang yang gagal dalam mengikuti proses psikotes”
(Ahmad Nur Irsan Finazli)

MENILIK pemahaman para orangtua mengenai psikotes, terkadang sedikit miris. Betapa tidak, mereka beranggapan bahwa psikotes merupakan segalanya dalam menentukan keberhasilan anak dalam mengarungi dunia pendidikan. Dengan kata lain, bahwa orang tua sangat mendamba skor IQ tinggi terhadap anaknya yang sedang menjalani proses seleksi memasuki sekolah unggulan. Tidak hanya itu, ketika mendapati anaknya memperoleh skor IQ rendah, dapat dipastikan orang tua akan meyakini bahwa anaknya tidak diterima masuk di sekolah unggulan dambaannya.

Coba kita sedikit masuk kedalam mengenai pemahaman ini, baik dipihak orang tua maupun sekolah. Memang tidak dapat dipungkiri sebagian besar sekolah unggulan memang menyaratkan nilai atau skor IQ tertentu untuk bisa mengenyam pendidikan di sekolah tersebut. Dari pihak orang tua, tentu akan berusaha semaksimal mungkin guna menembus proses seleksi di sekolah unggulan. Mulai dari mendatangi panitia seleksi sampai meng-tes-kan anaknya disebuah biro psikologi tertentu, guna persiapan.

Sebenarnya apa sih psikotes itu? Apakah harus menggunakan psikotes jika mau masuk ke sekolah unggulan. Tentu kita sering mendengar istilah tersebut, psikotes. Mari kita renungkan kata-kata bijak berikut, “Psikotes bukanlah segala-galanya namun memang ‘segala-galanya’ dimulai menggunakan psikotes”. Betapa tidak, mau sekolah saja menggunakan psikotes, kuliah dan bekerja pun menggunakan psikotes. Memasuki Polri, TNI, dan angakatan lainnya pun tak mau ketinggalan. Bahkan yang sedang booming, audisi dalam berbagai bidang kehidupan pun, psikotes selalu ada disana.

Psikotes berasal dari kata psyche, yang berarti jiwa. dan disambung dengan kata tes, sehingga bahasa gampangnya ya tes kejiwaan. Tes mengenai kondisi kejiwaan seseorang pada saat dikenai tes. Psikotes biasa digunakan dalam bidang pendidikan, kesehatan, industri, ketentaraan, tumbuh kembang manusia, birokrasi, dan lain sebagainya. Khusus Psikotes pada bidang pendidikan, biasa digunakan untuk mencitra diri seseorang, mengenai kondisi kejiwaannya. Juga memprediksi kondisi kejiwaan untuk mampu menerima tempaan pendidikan unggulan. Bahkan potensi yang dimiliki seseorang yang akan dikaitkan dengan dunia ilmu pengetahuan.

Mengungkap Beberapa Aspek
Aspek yang diungkap dalam psikotes pendidikan, antara lain kondisi tingkat kecerdasan, kepribadian, kemandirian. Namun sangat sering dilakukan dalam dunia pendidikan hanya menggunakan tes inteligensi saja. Dimana sebenarnya tiap-tiap tes inteligensi itu tidak hanya mengukur kemampuan intelektual saja, atau pun aspek-aspek pendukungnya. Seperti aspek-aspek verbal dan aspek abstraksi, tetapi lebih dari itu.

Beberapa kemampuan, kapasitas atau potensi, juga sifat-sifat lainnya telah pula dianggap sama termasuk dalam hal ini, antara lain faktor yang biasa disebut sebagai sifat-sifat temperamen dan kepribadian, seperti ketekunan, dorongan (drive), daya kekuatan dan sebagainya. Bahkan yang sedang digalakkan untuk memasuki tahap pendidikan disekolah unggulan adalah mengenai kemandirian si anak. Artinya, anak dianggap mandiri ketika dia ‘siap didik’ bukan ‘siap bermain’. Dengan asumsi, bahwa anak yang siap didik adalah anak yang siap menerima pelajaran di sekolah. Sedang anak siap bermain adalah anak-anak yang masih pada tahapan pra sekolah, taman kanak-kanak. Dimana anak ini, dipersiapkan untuk memasuki jenjang pendidikan formal.

Tools tertentu dalam psikotes, mengungkap beberapa aspek, antara lain berfikir logis, kecakapan pengamatan ruang, dan berfikir secara analogi serta kemampuan untuk mencari dan mengerti hubungan antara keseluruhan dengan bagian-bagian, dalam hal ini termasuk kemampuan menganalisa dan kemampuan meng-integrasi. Hal ini sering dipakai dalam seleksi sekolah unggulan.
Jenis perangkat tes yang sering digunakan dalam seleksi masuk sekolah unggulan mulai dari tes yang sederhana sampai rumit dalam proses administrasinya. Ada tes Stanford Binet, WAIS, WISC, CPM, SPM, dan lain-lain. Pengelompokkan tingkat atau taraf inteligensi subjek tentu masing-masing tes memiliki pengelompokannya tersendiri dari grade kecerdasannya.

Psikotes Perlu atau Tidak?
DILIHAT dari beberapa sisi kehidupan, terutama sisi bermasyarakat, tidak bisa disalahkan ketika seseorang berpendapat bahwa psikotes itu tidak perlu. Karena, hal ini sama saja kita melanggar hak asasi manusia. Hal yang sama juga berlaku untuk pendapat bahwa psikotes itu sangatlah diperlukan untuk kemaslahatan masyarakat. Namun, bagi yang belum punya pendapat atau tengah memikirkan jawaban, mari simak tulisan selanjutnya sebelum memutuskan untuk berpendapat.

Saya contohkan, pada kasus pertama, yakni sebuah kasus kebutuhan akan karyawan pada sebuah perusahaan. Perusahaan tersebut membuka peluang untuk berkarir bagi calon karyawan yang berdedikasi tinggi dan mempunyai motivasi tinggi untuk berprestasi. Perusahaan tersebut membutuhkan karyawan pada level manajerial, yang minimal menangani sebuah tim kerja. Sebutlah memerlukan supervisor. Tingkat kebutuhannya sangat mendesak dengan jumlah 25 orang calon supervisor.

Calon karyawan yang notabene bakal menempati jabatan supervisor tersebut, ternyata yang mendaftar tidak kurang dari 100 orang. Jumlah 100 ini saya ambil dari beberapa kasus tingkat kebutuhan karyawan sebuah perusahaan yang sedang berkembang. Anda tentu sudah bisa memperkirakan apa yang akan saya tulis dan tanyakan, berikutnya. Apakah keseratus calon karyawan tadi akan diterima semua? Apakah perusahaan tidak memerlukan penyeleksian calon karyawan? Kita tahan dulu jawabannya.

Sekarang kita beralih pada contoh kedua kasus sebaliknya, pada dunia pendidikan. Kita cari kasus yang agak ekstrim. Begini, dalam kasus pendidikan, sebuah sekolah yang sedang berdiri pada tahun pertama menerima calon siswa. Dimana sekolah tersebut sesuai dengan kapasitas gedung mampu untuk menampung 60 siswa yang terbagi kedalam tiga kelas. Pada tahapan penerimaan calon siswanya, diumumkan akan dilakukan tes seleksi yang termuat diantaranya adalah psikotes untuk tahap akhir.

Dalam hari-hari akhir menjelang penutupan, siswa yang mendaftar hanya 25 orang saja. Dimana itu pun sudah diperpanjang masa pendaftarannya. Nah, silakan Anda jawab pertanyaan diatas tadi dengan membandingkan kasus pendidikan ini. Dalam kasus pendidikan diatas, Anda bisa menjawab pasti keduapuluh lima calon siswa yang mendaftar tersebut akan diterima semuanya. Tanpa tes ataupun dengan tes. Diterima, baik lulus ataupun tidak lulus tes.

Artinya, psikotes dalam kondisi tertentu sangat dibutuhkan untuk seleksi, namun dalam kondisi yang lain boleh jadi tidak diperlukan. Secara tegas saya katakan dan saya berpendapat, bahwa psikotes tetap diperlukan walaupun kondisinya tidak memungkinkan. Pada contoh kasus pertama, psikotes sangat diperlukan. Namun pada kasus kedua, boleh jadi pihak sekolah membatalkan psikotes atau pun tetap melakukan psikotes. Jika saya bertindak sebagai tim penerimaan calon siswa, principle atau kepala sekolahnya, saya tetap akan menggunakan psikotes sebagai proses seleksinya.

Hal ini dengan alasan, psikotes tidaklah hanya diperlukan untuk menyaring siswa saja alias seleksi, tetapi bisa dipakai untuk melihat kondisi psikologis kesiapan para calon siswanya. Pertimbangan mampu atau tidaknya, cocok tidaknya siswa sekolah pada sekolahan tersebut. Nah, dengan demikian Anda bisa menjawab perlu tidaknya psikotes itu. Silakan jawab.

*Konsultan Psikologi Mitrasolusi Indonesia

2 Respon untuk Anak Siap Didik, Bukan Siap Main

  1. Asslm ww. anak-anak saya 2 orang, kelas 3 dan 4 SD, kapan mereka perlu mengikuti psikotes untuk melihat minat dan bakat agar pendidikan dan kegiatan2 lain dapat langsung diarahkan kepada minat anak-anak.

    Tks/wslm,
    SIQ

    • ‘Alaikumussalam…

      Bu Istiqomah, yg bijak. mulai SD dan seterusnya… sudah bisa bu.
      Tetapi alangkah bijaknya seluruh potensi perlu difasilitasi tanpa memandang minat dan bakat terlebih dulu. Optimal dan waktu yang pas ketika mereka Remaja.
      terimakasih

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s