<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Noor Irsan Finazli</title>
	<atom:link href="http://irsanfinazli.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irsanfinazli.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Wed, 02 Dec 2009 12:35:07 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='irsanfinazli.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/857bd4e6aa0782e09c196b2d41e68024?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Noor Irsan Finazli</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Prolog Buku Menjadikan Anak PENYEJUK HATI, karya Rahmadona Fitria</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/12/02/prolog-buku-menjadikan-anak-penyejuk-hati-karya-rahmadona-fitria/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/12/02/prolog-buku-menjadikan-anak-penyejuk-hati-karya-rahmadona-fitria/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Dec 2009 12:32:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=283</guid>
		<description><![CDATA[ 
Oleh : AHMAD NUR IRSAN FINAZLI, S.Psi
(Owner MitraSolusi &#38; Psychologist Consultant)
Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji hanya milik Allah SWT. Saya selaku pribadi sangat bersyukur bisa memberi pengantar pada buku karya seorang research associate, Rahmadona Fitria. Dimana selama ini masih jarang seorang ibu rumah tangga yang mengabadikan dan membagikan pengalaman mendidik anak-anaknya kepada orang lain. Kebanyakan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=283&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://irsanfinazli.files.wordpress.com/2009/12/buku-dona_tampak-depan.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-284" title="buku dona_tampak depan" src="http://irsanfinazli.files.wordpress.com/2009/12/buku-dona_tampak-depan.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" width="199" height="300" /> </a></p>
<p>Oleh : AHMAD NUR IRSAN FINAZLI, S.Psi<br />
(Owner MitraSolusi &amp; Psychologist Consultant)</p>
<p>Alhamdulillahirobbil’alamin, segala puji hanya milik Allah SWT. Saya selaku pribadi sangat bersyukur bisa memberi pengantar pada buku karya seorang research associate, Rahmadona Fitria. Dimana selama ini masih jarang seorang ibu rumah tangga yang mengabadikan dan membagikan pengalaman mendidik anak-anaknya kepada orang lain. Kebanyakan dari mereka justru berkutat pada permasalahan kerumahtanggaan yang mereka hadapi, banyak yang konsultasi ke saya. <span id="more-283"></span></p>
<p>Rahmadona Fitria berbagi pengalaman, terlebih dalam sebuah buku terapan bagus seperti ini. Bukankah menjadi seorang ibu rumah tangga butuh ilmu? Ibu rumah tangga adalah jabatan mulia bagi mereka yang menyandangnya.</p>
<p>Dalam buku ini terdapat berbagai solusi praktis tentang hal yang dihadapi oleh seorang ibu maupun bapak dalam menghadapi perilaku anaknya, masalah pendidikan anak. Panduan praktis dengan gaya bahasa yang sederhana, boleh dikatakan renyah dan sangat mengalir sehingga mudah dipahami oleh siapa saja yang membacanya.</p>
<p>Tidak berlebihan jika saya katakan, bahwa seorang Dona akan bisa menyadarkan banyak ibu rumah tangga akan pentingnya sebuah ilmu untuk mendidik anak-anaknya. Terlebih mempersiapkan pendidikan anak remajanya, karena banyak yang terkecoh bahkan salah tingkah ketika menghadapi anak remajanya.<br />
Biasanya orang tua sibuk mencari buku-buku pendidikan anak selagi balita, namun mereka lupa mempersiapkan pendidikan anaknya ketika beranjak remaja.</p>
<p>Buku ini juga sangat bisa dijadikan acuan bagi para pemuda dan pemudi yang akan melangsungkan pernikahan, sebagai buku bacaan persiapan menjadi orangtua yang sukses. Tentu juga sangat bagus dibaca oleh para orangtua yang belum maupun telah mempunyai anak. Hebat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/283/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/283/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/283/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=283&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/12/02/prolog-buku-menjadikan-anak-penyejuk-hati-karya-rahmadona-fitria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irsanfinazli.files.wordpress.com/2009/12/buku-dona_tampak-depan.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">buku dona_tampak depan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sukses Psikotes, Evaluasi Diri</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/11/16/sukses-psikotes-evaluasi-diri/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/11/16/sukses-psikotes-evaluasi-diri/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 13:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=281</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli, S.Psi*
“Seseorang yang sering tidak lulus psikotes, biasanya terkait dengan ketidaktahuannnya akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes. Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama” (Ahmad Nur Irsan Finazli)
&#160;
SETIAP perusahaan secara berkala akan melakukan proses rutin yang dinamakan sebagai evaluasi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=281&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>&nbsp;</p>
<p>Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli, S.Psi*</p>
<p>“Seseorang yang sering tidak lulus psikotes, biasanya terkait dengan ketidaktahuannnya akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes. Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama” (Ahmad Nur Irsan Finazli)</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span id="more-281"></span>SETIAP perusahaan secara berkala akan melakukan proses rutin yang dinamakan sebagai evaluasi, entah job evaluation maupun evaluasi terhadap target perusahaan secara keseluruhan. Betapa pun sibuknya roda perusahaan berputar, mereka tetap menyempatkan untuk melaksanakan ‘ritual’ yang satu ini. Tidak bisa tidak alias keharusan. Entah didalamnya para pemuda atau kalangan tua, wanita maupun pria. Kaidah evaluasi, Berlaku.</p>
<p>Paragraf di atas hanya sebatas contoh saja, yang berlaku bagi semua perusahaan mulai level terendah sampai bonafid. Dengan mengambil contoh di atas, bisa kita tarik ke lapangan rentang usia pemuda. Dimana dinamika pemuda sama rumitnya dengan dinamika perusahaan, bahkan lebih rumit. Ada perusahaan yang baru berkembang, rintisan, maupun perusahaan yang sudah mapan bahkan perusahaan yang pailit atau mungkin bangkrut.</p>
<p>Demikian juga pemuda, berlaku hal di atas. 	Ada pemuda yang masih hijau –berkembang-, pemuda tanggung, pemuda yang sudah mapan maupun pemuda yang bangkrut sebagai pemuda. Untuk mengetahui posisi pemuda, dimana ia berada, hanya satu jawaban, yakni evaluasi diri. Boleh dievaluasi orang lain maupun diri sendiri. Tapi sebaiknya evaluasi dari dua sisi, internal (diri) dan eksternal (orang lain). Sehingga hasilnya lebih objektif. Evaluasi yang mudah kita pahami adalah menilai diri atau menimbang-nimbang diri atau menghitung-hitung diri dari berbagai macam sisi.</p>
<p>Boleh dari sisi perilaku baik dan buruk, keyakinan yang sudah benar atau tidak, ibadah sesuai tuntunan atau tidak, sisi pemikiran ‘nyeleneh’ atau tidak. Yang kesemua sisi tadi menyatu dalam diri pemuda, keyakinan (aqidah), perilaku (akhlak), ritual (ibadah), dan fikiran (fikrah). Nah, keempat hal inilah yang menyatu dalam diri pemuda, yang nota bene makhluk Allah SWT. 	Tidak semua pemuda mengetahui posisinya dimana, boleh jadi anggapan dirinya ia pada posisi aman alias mapan, tetapi dari kacamata luar sesungguhnya dia ada pada posisi pemuda ‘pailit’ yang harus segera dimerger dengan pemuda lain.</p>
<p>Contoh kasus, begini, seorang pemuda anu merasa dirinya mempunyai segala hal, sacara kasat mata, memang benar. Ia berkendara mobil roda empat, menenteng telepon genggam keluaran terkini, berpakaian merek mahal mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, perlente-lah. Tetapi segala yang menempel pada dirinya, merupakan barang-barang milik ayahnya alias dimodali oleh bokapnya. 	Tampil sempurna menurut kacamata diri, ternyata pailit menurut kacamata orang lain. Terbukti dari aktivitas pemuda tadi yang hanya menghamburkan uang saja –berfoya-foya-. Lain halnya jika pemuda perlente tadi, berperilaku demikian memang dari hasil keringatnya sendiri. Tentu berbeda, penilaian diri dan orang lain.</p>
<p>Nah untuk mengetahui posisi pemuda, ya lakukan saja evaluasi. 	Memang benar, evaluasi itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada rambu-rambunya, apa dan siapa yang dievaluasi, serta bagaimana pula cara mengevaluasinya. Tak kalah pentingnya, siapa yang seharusnya mengevaluasi. Nah, disinilah biasanya pemuda kebingungan. Dan disini pula banyak sekali profesional yang mengambil untung dari situasi ini. 	Padahal, ada cara yang paling mudah yang bisa kita jadikan barometer atau alat timbang-menimbang, yaitu hati kecil kita. Kita sebagai pemuda bisa memanfaatkannya takala kita mengevaluasi diri kita, tatkala menghisab diri kita sebelum dihisab pada hari penghisaban nanti.</p>
<p>Hati kecil kita sering membisikkan kebenaran yang seharusnya kita kerjakan, mebisikkan hal yang seharusnya tidak kita kerjakan. Tetapi seringkali nafsu memotongnya dengan menjegal secara keji bisikan suci itu. 	Bahkan yang lebih sering lagi, nafsu kita mencampakkannya, meginjak-injaknya dan kemudian memusnahkan tanpa jejak sedikit pun. Walhasil, lenyap tanpa bekas bisikan suci itu. Usia muda memang penuh gejolak membara, tapi mari kita coba mengendalikannya dengan satu semangat demi kesuksesan masa muda yang penuh makna.</p>
<p>Berbicara mengenai hati, terkadang sulit dan berat, termasuk penulis sendiri juga merasakan hal itu. Ada baiknya seorang pemuda pada tingkatan manapun posisinya agar belajar berbesar hati untuk menghargai bisikan suci yang sering muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Mulai kita dengar pendapatnya, kita pertimbangkan advis-advisnya, kemudian kita cari alternatif cara untuk mengamalkannya. Tentu saja dengan sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh atau bermujahadah. 	Seorang pemuda juga harus mulai berani melawan hasutan sesat nafsu yang sering muncul secara tiba-tiba.</p>
<p>Kita kenali dan cermati perangainya, kita redam gejolaknya, dan kemudian kita arahkan penyalurannya sesuai pada tempatnya. Serta kita sebagai seorang pemuda, sudah merupakan konsekuensi logis kita memulai melatih diri -tadrib- semangat demokratis dalam manajemen diri, yakni mulai memperhatikan bisikan hati nurani dan mengendalikan nafsu. 	Sampeyan mau tahu, kerusakan bangsa ini lebih banyak disebabkan oleh para pemuda yang yang tidak kuasa dalam memenangkan bisikan hati nurani dan kelemahan kita dalam mengalahkan kejahatan nafsu diri tatkala menghadapi sebuah permasalahan. Camkan hal ini, semoga para pemuda kita bisa berbenah.</p>
<p>Kita ketahui bersama dalam setiap masalah pasti ada hikmah dibaliknya, tapi bagaimana cara mengambil hikmah tersebut kalau kita tidak pernah melakukan evaluasi diri mendengarkan bisikan hati nurani yang setia. Cermin hati kita akan terlihat aslinya saat kita menghadapi masalah. Oleh karena itu hisablah diri kita selagi di dunia sebelum datang hari pengsisaban sesungguhnya. Muhasabatun nafsi, mengevaluasi diri sendiri.  Dalam kasus yang sangat sempit, psikotes bisa saja menjadi permasalahan pelik yang menggangu seorang pemuda, fresh graduate, atau pun orang tua yang mencari kerja.</p>
<p>Tersebutlah dalam sebuah daftar calon pelamar yang setelah melalui berbagai tahapan tes, ia dinyatakan lulus dan berhak untuk mengikuti tes akhir, psikotes. Sebagai seorang yang normal, ia sangat bahagia, tetapi setelah sekian kali mengikuti psikotes, tak kunjung lulus, tak kunjung diterima kerja alias tidak diterima. Kira-kira bagaimana perasaannya? Tentu sangat kecewa, sedih, bahkan bisa jadi nglokro yang berkepanjangan.</p>
<p>Hal ini bisa dianggap wajar ketika seseorang tadi belum mengetahui beberapa kaidah dalam prefentif kekokohan jiwa. Namun menjadi tidak wajar, ketika seseorang tadi telah mengetahui kaidah dalam pengokoh jiwa.  Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap diri untuk mengetahui kaidah ini. Agar tidak jatuh pada permasalahan yang seharusnya tidak perlu direspon dengan kesedihan yang mendalam. Kaidah yang keempat adalah selalu lakukan evaluasi diri.</p>
<p>Mengapa saya selalu tidak lulus dalam mengikuti psikotes, padahal sudah sekian kali.  Evaluasi disini, jika sudah sekian kali tidak lulus, sebaiknya melibatkan ahlinya, konsultan psikologi atau psikolog. Biasanya, seseorang yang selalu tidak diterima, terkait dengan ketidaktahuannnya akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes yang selama ini ia ikuti. Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama.</p>
<p>Untuk mengetahui penyebab ketidaklulusannya, maka lakukan evaluasi secara berkala dengan ahlinya. Pasti akan ketemu penyebabnya, walhasil sukses menemukan potensi diri untuk berkiprah pada lapangan pekerjan yang sesuai. Pegawai, pengusaha atau investor bahkan owner perusahaan. Silakan mencoba kaidah ini. Saya yakin pasti berhasil, insyaALLAH.  Wallahu a’lam.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>***Owner and Psychologist Consultant MITRA Solusi Banjarbaru</p>
<p>www.irsanfinazli.wordpress.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/281/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/281/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/281/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=281&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/11/16/sukses-psikotes-evaluasi-diri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tips Lulus Psikotes, untuk CPNS</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/22/tips-lulus-psikotes-untuk-cpns/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/22/tips-lulus-psikotes-untuk-cpns/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 00:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=278</guid>
		<description><![CDATA[Baiklah saudara, sekarang saya beritahukan bahwa PNS atau CPNS atau Karyawan disebuah perusahaan ternama bukanlah segala-galanya, kalau cara mendapatkannya dengan prakter penjahat. Tetapi segala-galanya nilai dari sebuah pekerjaan adalah dimulai dari praktek yang baik dan benar dalam menggapai sebuah cita-cita. Mulailah dari diri sendiri dengan jujur, dengan kemampuan sendiri, kenali diri sendiri secara paripurna.
Anda mau [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=278&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Baiklah saudara, sekarang saya beritahukan bahwa PNS atau CPNS atau Karyawan disebuah perusahaan ternama bukanlah segala-galanya, kalau cara mendapatkannya dengan prakter penjahat. Tetapi segala-galanya nilai dari sebuah pekerjaan adalah dimulai dari praktek yang baik dan benar dalam menggapai sebuah cita-cita. Mulailah dari diri sendiri dengan jujur, dengan kemampuan sendiri, kenali diri sendiri secara paripurna.<span id="more-278"></span><br />
Anda mau lulus tes psikologi, gampang aja saudara. Tidak perlu susah-susah nyogok sana-sini, baca buku prediksi tes sana-sini. Cukup dengan datang ke tempat tes tepat waktu, duduk sesuai nomer urut tes, berdoa, dengarkan instruksi Sang Tester, tanyakan hal-hal yang memang perlu ditanyakan dan memang anda perlu penjelasan lebih lanjut. Jawablah dengan apa adanya sesuai instruksi dan keadaan diri anda saat ini yang sebenarnya.<br />
Yang pasti, jadikan anda sebagai bintang pada setiap sesi tes. Tapi ingat bintang yang bersinar karena keunggulan budi pekerti, tentunya. Bukan bintang pelopor curi start ataupun keributan bahkan kekacauan.<br />
Coba anda baca ‘sharing’ dari saya mengenai persiapan lulus psikotes dengan gampang. Setelah itu anda resapi, renungkan sedalam-dalamnya, atau ‘waqfah’ yakni berhenti sejenak untuk memahami dan meresapi serta mengevaluasi persiapan yang telah dilakukan. Barulah anda action, berjuang, bermujahadah untuk menjawab setiap aitem soal secara sadar. Ingat secara sadar dan sadar.<br />
Sadar disini adalah bahwa anda mengikuti psikotes ini memang kemauan sendiri, tahu bentuk kerjaannya nanti mengenai job description atau uraian tugas dan posisi apa yang akan dipegang. Paham resiko yang akan ditanggung setelah diterima kerja, atau dengan kata lain sampeyan mengerti tentang konsekuensi kedepannya jika diterima atau tidaknya.<br />
Sharing dari saya hanya berlaku agar lulus tes psikologi bukan tes akademik, bukan juga tes praktikum. Pertama, Istirahat yang sangat cukup artinya selalu luangkan waktu untuk enjoy karena istirahat tidak selalu harus dengan tidur. Menikmati suasana hati yang tenang dengan merasakan hangatnya secangkir teh bikinan sendiri sambil melihat keagungan Allah SWT melalui rintik air hujan yang sedang turun, itu juga merupakan istirahat.<br />
Kedua, karena ini tes kejiwaan tentu saja anda harus persiapan mental. Apa yang harus dilakukan, siapkan diri anda untuk bersikap sebagai diri sendiri yang berwibawa. Menyiapkan diri menghadapi situasi tes, yaitu sebagai peserta tes yang mendengarkan dan melaksanakan semua instruksi dan perintah tester atau psikolog pengetes.<br />
Ingat, menyiapkan mental sebelum berjuang sangat urgen. Siap sebelum berjuang adalah merupakan separo kemenangan. Setengahnya ya ambil saat tes berlangsung. Jelas tidak sama antara orang yang siap dengan orang yang belum atau tidak siap mental dalam menghadapi sebuah medan perjuangan.<br />
Nah ini yang ketiga, penting untuk anda. Situasi saat hari H. Saat menghadapi psikotes. Datanglah beberapa menit sebelum waktu tes dimulai. Gunanya untuk ma’rifatul medan -pengenalan ruang- dimana anda berada, diposisi mana anda duduk, bagaimana situasi lingkungan tes, nyamankah kursi anda, siapa psikolognya, dimana ruang toiletnya serta yang lainnya. Yang jelas terkait dengan lingkungan tes.<br />
Tester mulai membuka sesi, anda dengarkan baik-baik. Bertanyalah saat diminta bertanya, kalau memang anda perlu penjelasan. Jangan sekali-kali sampeyan bertanya pada saat pengerjaan aiten psikotes sedang berlangsung. Hal ini akan memberikan nilai minus bagi anda. Kenapa? tentu anda sudah tahu jawabannya. Bertanyalah pada tempatnya. Titik.<br />
Selanjutnya, jawablah pertanyaan sesuai perintah dan instruksi dari tester. Mulailah saat diminta mengerjakan, artinya jangan curi start. Berhentilah mengerjakan jika waktu telah habis, biasanya tester mengatakan “waktu telah habis, letakkan alat tulis anda, sekarang!” maka tiada tindakan lain yang pantas dilakukan oleh seorang bintang psikotes selain meletakkan alat tulis dan berhenti mengerjakan.<br />
Kerjakan semua sesi tes dengan penuh semangat dan tanggung jawab serta penuh dengan kejujuran. Jadilah sampeyan bintang psikotes. Pelihatkan diri anda yang terbaik. Kalau sampeyan curi start atau menambah waktu setelah jatah waktu habis, saya pastikan anda akan ketahuan. Bukan karena psikolognya tukang ramal tetapi memang demikian adanya. Saya berpengalaman akan hal ini, pasti ketahuan sekali lagi ketahuan. Jawaban anda tidak akan konsisten.<br />
Untuk mengungkap kepribadian seseorang melalui psikotes, psikolog tidak hanya menggunakan satu alat prediksi. Saya beritahu ya. Mereka akan meng-cross cheque-kan pada alat pengungkap yang lain. Minimal tiga alat ungkap. Jadi, tak ada gunanya sama sekali bagi sampeyan yang mencuri start atau menambah jatah waktuyang seharusnya. Anda akan gugur.<br />
Kerjakan sendiri, jangan menyontek jawaban teman sebelah anda. Kepribadian sampeyan akan terkontaminasi dengan pribadi orang yang anda contek. You are you, ok !? Dari psikotes itu, psikolog mencitrakan diri ada apa adanya sesuai dengan jawaban dan sikap anda saat ini pada saat pelaksanaan psikotes. Jadi tampilkan diri anda sesungguhnya dan sejujurnya. Tidak usah dibuat-buat.<br />
Psikotes adalah proses memprediksi personal pada saat ini dan akan di-matching-kan atau dicocokkan dengan bentuk tugas atau job deskripsi yang akan dilakukan oleh person tadi pada pekerjaan tertentu. Artinya semua peserta tes itu pasti lulus psikotes, tetapi cocok tidaknya dengan jenis pekerjaan itulah yang menentukan diterima tidaknya pada posisi tertentu.<br />
Jangan berkecil hati bagi anda yang tidak diterima pada pekerjaan tertentu dari hasil psikotes. Karena saya yakin anda pasti diterima pada tugas pekerjaan yang sesuai dengan kondisi pribadi anda. Ingat tulisan saya sebelumnya, khan? Anda akan stress dan frustasi pada pekerjaan yang tidak sesuai dengan kondisi kepribadian anda sesungguhnya.<br />
Psikotes penerimaan pegawai bukanlah mencari salah atau benar, baik atau buruk, cerdas atau cerdas sekali, tetapi psikotes adalah proses memprediksi diri anda sesuai atau tidak sesuai pada posisi jabatan tertentu. Tentu saja dengan acuan job discription and job specification. Bukan acuan sogokan. Bukan acuan kekeluargaan. Juga bukan acuan asal-asalan. Yang intinya bukan mengacu pada prinsip Kolusi Korupsi dan Nepotisme alias KKN.<br />
Berdoalah selalu setiap kali anda mengerjakan kebaikan. Menorehkan sejarah peradaban manusia yang baik tentu saja dimulai dari proses input yang baik pula. Oleh karena itu jadikan diri kita sang Mujaddid – Pembaharu- dalam peradaban manusia yang saat ini sangat diperlukan pembaharuan. Gampang kan lulus psikotes? Jadi, jadilah diri sampeyan sendiri. Semoga berhasil, Saya doakan.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/278/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/278/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/278/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=278&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/22/tips-lulus-psikotes-untuk-cpns/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Seri : NIKAH DINI-ku</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/21/seri-nikah-dini-ku/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/21/seri-nikah-dini-ku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Oct 2009 23:52:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=274</guid>
		<description><![CDATA[Solusi Tepat Untuk Sukses

Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*
TERBAYANG oleh kita betapa bahagianya seorang yang baru saja melangsungkan ritual sakral, pernikahan. Terlebih lagi jika yang menikah, diri kita sendiri. Betapa ‘sumringah’ hati kita, tatkala me-lafaz-kan ijab qobul dengan lancar tanpa diulang dengan disambut doa para tamu undangan melalui ucapan “barokallahu laka wabaroka alaika…”.
Ingatan kita saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=274&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Solusi Tepat Untuk Sukses<br />
<img title="Foto-ku usia 31" src="../files/2009/10/abba-149irsan46-edit.jpg?w=199" alt="Foto-ku usia 31" width="199" height="300" /><br />
Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*</p>
<p>TERBAYANG oleh kita betapa bahagianya seorang yang baru saja melangsungkan ritual sakral, pernikahan. Terlebih lagi jika yang menikah, diri kita sendiri. Betapa ‘sumringah’ hati kita, tatkala me-lafaz-kan ijab qobul dengan lancar tanpa diulang dengan disambut doa para tamu undangan melalui ucapan “barokallahu laka wabaroka alaika…”.<br />
Ingatan kita saat pengucapan akad nikah dihadapan penghulu KUA pasti sangat kuat.<span id="more-274"></span> Bahkan pada zaman sekarang, agar ingatan itu terus dikenang sampai tua, tidak sedikit bagi yang berduit mengabadikannya dengan video shooting. Jadi Raja dan Ratu dalam semalam, pusat perhatian hadirin, juga pusat gosip media massa. Waah asyiknya, bagaimana rasanya ya? Bagi yang sudah menikah pasti pernah merasakannya. Makanya, nikah aja selagi muda.<br />
Masyarakat kita adalah masyarakat yang berbudaya, makanya segala sesuatau yang terkait dengan nilai sakral pasti ada tuntunannya, aturan mainnya, hitung-hitungannya, syarat-syaratnya bahkan seabreg ‘ketebelece’ yang harus dipenuhi, termasuk pernikahan. Jangankan pernikahan, memasang kuda-kuda rumah saja ada hitungan harinya sampai jenis makanan ‘gasan’ syukurannya. ‘Iya kalo?’.<br />
Pernikahan, bagi sebagian besar masyarakat banua kita adalah sesuatu yang harus dirayakan, dipublikasikan, dibiayai dengan uang yang ‘tidak boleh sedikit’ alias ‘larang’. Kalau perlu harus dipaksakan ada, artinya walaupun tidak ada uang banyak, ya diada-adakan entah bagaimana caranya, ngutang atau jual tanah mungkin.<br />
Tidak sedikit mereka yang tidak kaya, dipaksakan harus kaya mendadak kalau mau melangsungkan pernikahan. Jujuran, pasti harus ada. Uang perayaan, apalagi, jelas tak kalah pentingnya. Bagi yang tidak punya rumah besar dan bagus, ya menyewa gedung aula. Kalau rumahnya kecil, disulap jadi besar dengan memakai fasilitas umum jalan raya atau rumah tetangga, misalnya. Warna gemerlap sebuah keniscayaan dalam pernikahan, siapapun orangnya.<br />
Hal tersebut di atas adalah normal dan wajar, bagi setiap budaya yang ada di masyarakat tertentu semua strata. Tapi, bagaimana jika pernikahan itu adalah pernikahan dua insan yang muda belia, berusia remaja, minimal remaja akhir ditinjau dari kacamata rentang usia secara psikologi perkembangan. Kira-kira apa pendapat masyarakat manusia, dewasa ini? Positif ‘kah, negatif ‘kah. Saya ambil kesimpulan, negatif.<br />
Mulai dari tuduhan yang wajar sampai pada sangkaan yang membabi buta, parahnya. Hamil duluan, ingin hartanya, keturunan ningrat alias darah biru, dipelet, diguna-guna, kolot dan lain sebagainya. Salut untuk mereka yang berprasangka positif, saya yakin belum banyak. Anggapan masyarakat kita, hal tersebut adalah baru, yang perlu diwaspadai. Pernikahan yang belum saatnya, seakan dipaksakan yang menurut mereka akan menyusahkan berbagai pihak, mulai orang tua kedua mempelai sampai pembuat undang-undang pernikahan yang ada di negara kita.<br />
Wajar, mereka belum tahu nilai strategisnya pernikahan yang dilangsungkan pada saat rentang usia muda belia, yang sering kita sebut sebagai pernikahan dini. Imej negatif masyarakat, salah satu penyebabnya adalah fenomena realita yang sering terjadi pada serangkaian upacara pernikahan, mempelai wanitanya sudah ‘berperut ganal’ duluan. Ditambah lagi beberapa tontonan sinema elektronik, sinetron, yang mendramatisir sebuah pernikahan dini antar dua manusia belia, seakan-akan repot segalanya, susah segalanya, bingung segalanya, dadakan segalanya, jadinya yang nonton pun ikut pusing.<br />
Eeeh…boro-boro yang nonton, yang denger cerita dari tetangga atau teman pun, ikut pusing tujuh keliling. Kenapa bisa begitu? Iya lah, namanya juga sinetron. Terang saja, pernikahan dini yang tidak direncanakan!. Wajar kalau kacau balau. Tetapi masih mending jika dua pasang manusia muda belia ini, bisa learning by doing dalam hal positif saling mengisi dan mempelajari pernak-pernik pernikahan dini. Walhasil, boleh jadi sukses.<br />
Kenapa saya bilang bisa sukses, ya karena saya tahu dengan pasti pernak-pernik pernikahan dini, lha wong saya termasuk pelaku pernikahan dini, nikah pada usia 22 tahun istri dan 23tahun saya, bahkan pernah menjadi bintang tamu dalam seminar sehari tentang NIKAH DINI di Jogja yang dihadiri manusia muda belia, mahasiswa, dan dosen dari beberapa perguruan tinggi area selatan. Saat menjadi bintang tamu, kami baru mempunyai anak satu dan istri hamil muda. Tapi pernikahan dini yang memang direncanakan lho. Begitu lulus dan wisuda, kami menggendong dua orang generasi penerus, anashir-anashir tahgyir alias calon agent of change sang pembaharu.<br />
Yang ingin saya katakan, tidak semua pernikahan dini itu jelek, baik yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan, asalkan bukan MBA, maried by accident, tetapi nikah dengan sebuah kesadaran penuh akan makna pernikahan yang hakiki. Urusan dirayakan secara mewah atau mewah sekali, dirumah atau di gedung aula megah, mengundang artis terkenal atau artis kampungan, dihadiri oleh sepuluh atau seribu tamu, pakai jujuran atau ‘kejujuran diri’ tidak punya modal alias modal dengkul, itu tidak jadi masalah pokok.<br />
Coba kita lihat, beberapa kelompok masyarakat yang sudah mulai tergugah untuk menikahkan buah hatinya saat mereka masih diusia belia, taruhlah duapuluh tahun atau duapuluh lima tahun. Kebanyakan dari mereka yang notabene pioneer pernikahan dini berjilbab besar dan berjenggot sedikit, mungkin dari kalangan agamis atau memang kebetulan saja berjilbab atau berjenggot. Tapi, mari kita bandingkan prosentase antara pernikahan belia yang direncanakan matang, yang bercerai dengan pernikahan lanjut atau reguler yang berakhir cerai. Bagaimana menurt Sampeyan?<br />
Banyak public figure yang menikah, tak lama kemudian bercerai. Eh baru mengikrarkan ijab qobul selepas itu langsung gugat cerai, apa-apaan ini. Pernikahan kog dibikin sensasi, pamali. Padahal, kalau kita mau menikah saat usia muda belia, banyak sekali nilai keuntungannya lho. Satu, secara fisik masih kuat, tenaga kuda, tidak mudah letoy, ha..ha..ha. Artinya, saat kita mempunyai anak, taruhlah lima anak, ‘behalat’ satu sampai dua tahun, saat anak-anak kita memasuki masa remaja, yang memerlukan partner sejati dalam kasih sayang persiapan menghadapi dunia nyata, kita masih berusia tiga puluhan!. Nah, masih kuatkan? Mau adu panco, bisa. Mau adu lari cepat, sprinte dengan anak, bisa. Mau adu cepat dalam berenang seratus meter, bisa. Mau jadi group gasan pertandingan bola voli keluarga, juga bisa. Bahkan bergulat pun, kita masih kuat dan bisa. Kalau tidak disebut sukses, lalu apa namanya.<br />
Dua, secara psikis dorongan-dorongan nafsu manusiawi baik yang negatif maupun positif, segera tersalurkan secara moral, benar dan tidak terhambat. Tahapan dalam menunaikan tugas perkembangan cenderung normal dan sesuai. Yakni tugas perkembangan mulai dari aktualisasi diri terkait keilmuan, mencari pasangan hidup, mencari nafkah, penyesuaian dengan pasangan, mengasuh anak, hidup dengan masyarakat sosial, menyalurkan hasrat manusiawi, sampai pada kebermaknaan hidup. Nah, jelas enak bukan? Seluruh potensi tersalurkan secara normal sesuai tahapan tugas perkembangan usia, saling membantu antar dua insan belia menggapai cita-cita. Kalau bukan sukses, lalu apa namanya.<br />
Padahal, jika dorongan nafsu yang kuat pada masa muda tanpa tahu ilmu menyalurkannya secara benar, akibatnya fatal. Masa depan suram, terjerumus ke‘lembah hitam’. Hal ini, menjadi budaya yang sudah merajalela dikalangan generasi muda kini. Ya nge-seks, free-sex, nge-pil koplo, nenggak miras, perkosaan, vandalisme, kebut-kebutan, pencurian, perampokan, bahkan judi sampai perkelahian antar remaja atau anak muda. Coba bayangkan, begitu membahayakan bukan?<br />
Tiga, secara agamis jelas sesuai syar’i alias hukum yang dibuat oleh-Nya. Terhindar dari perbuatan mendekati zina, pacaran ala perancis, misalnya. Seluruh aktivitas pacaran pasca nikahnya, berpahala sangat besar. Mulai dari menyapa namanya, membelai rambut, mencium kening dan seterusnya adalah mengandung nilai ibadah yang tinggi dan tidak diberikan kepada insan belia yang mendekati zina. Coba renungkan, kalau bukan sukses lalu apa namanya.<br />
Empat, ditinjau dari segi kesehatan, apalagi, pasti sangat aman dan sangat dianjurkan untuk melahirkan sebelum usia lanjut. Asalkan sekali lagi, direncanakan secara matang, maaf saya ulang-ulang, supaya lebih mantap. Seluruh anggota badan, organ tubuh internis maupun eksternis, jelas memenuhi standar kesehatan. Apalagi namanya, kalau bukan sukses.<br />
Lima, finansial anak muda tidak bertele-tele, dengan penghasilan yang pas-pasan masih bisa untuk berbuat banyak bagi kelangsungan pernikahan awal. Toh tuntutan hidup belum begitu memakan biaya besar, kalaupun perlu biaya besar, mulai dari tenaga, intelektual, keterampilan, ketahanan berusaha masih bisa diandalkan. Menikah tidak harus segalanya ada duluan, tapi sesuatu yang belum ada bisa diadakan pasca pernikahan untuk dilengkapi.<br />
Enam, secara waktu. Menikah saat berusia belia, kita bisa menyelesaikan tugas perkembangan dengan normal, artinya akan banyak tugas lain yang lebih besar akan segera  diraih. Misalnya, menunaikan ibadah haji saat muda, menjabat sebagai public figure, walikota, gubernur, bahkan presiden partai sampai presiden negara. Apalagi namanya kalau bukan sukses.<br />
Oleh karena itu, wahai saudara mudaku, bersegeralah menikah sebelum terlambat meraih kesuksesan. Pernikahan dini, kunci sukses yang hakiki.***</p>
<p>* Psychologist Consultant &amp; Owner<br />
MITRA SOLUSI Banjarbaru<br />
www.irsanfinazli.wordpress.com</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/274/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/274/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/274/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=274&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/21/seri-nikah-dini-ku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="../files/2009/10/abba-149irsan46-edit.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">Foto-ku usia 31</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsultasi Sukses Interview</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/13/konsultasi-sukses-interview/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/13/konsultasi-sukses-interview/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 14:56:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=271</guid>
		<description><![CDATA[Isal, berkata : &#8220;Kemarin saya dipanggil tes interview di salah satu industri di bandung &#38; merasa bingung ketika ditanya mengenai cita-cita saya. Seandainya saya masih kecil, saya bisa aja ngejawab “cita2 saya ingin menjadi pilot”, namun itu tidak dpt saya utarakan karena saya pikir untuk seumuran saya tidak ada cita2 sperti itu, melainkan realita yg [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=271&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Isal, berkata : &#8220;Kemarin saya dipanggil tes interview di salah satu industri di bandung &amp; merasa bingung ketika ditanya mengenai cita-cita saya. Seandainya saya masih kecil, saya bisa aja ngejawab “cita2 saya ingin menjadi pilot”, namun itu tidak dpt saya utarakan karena saya pikir untuk seumuran saya tidak ada cita2 sperti itu, melainkan realita yg harus dihadapi&#8221;.</p>
<p><span id="more-271"></span>Lanjutnya, &#8220;Apabila saya menjawab “cita2 saya ingin menjadi sukses”, apakah itu jawaban yg tepat atau sebaliknya, karena saya rasa jawaban itu tidak memberi keterangan yg jelas. Ataukah saya harus menjawab “cita2 saya ingin bahagia di dunia&amp;akhirat”?<br />
Menurut mas Irsan sendiri kira2 apa jawaban yg tepat mengenai cita2 bagi orang yg bingung sperti saya ini?<br />
atas jawabannya saya ucapkan terima kasih&#8221;.<br />
***Assalamu’alaikum.wr.wb<br />
Isal, yg sedang bebahagia. Begini, mengenai interview –&gt; pertanyaan apa pun yanga diajukan interviewer, sebenarnya harus dijawab apa adanya. Maksud saya, si interviewer itu hanya ingin sekedar jawaban saja, tetapi juga mencari performance kita dalam menjawab, cara berskap, berargumen, tentu yang masuk akal. Jadi jawaban apapun itu tidak masalah selama kita bisa berargumen secara jelas dan masuk akal.<br />
Interviewer hanya kepingin, melihat cara kita ngomong jangan-jangan kita ompong atau belum gosok gigi…hehehe (serius nih lho). Saat kita menjawab pertanyaan, garuk-garuk kepala, tengok sana-sini dll, Performance itu akan menampakkan sebagian besar “isi kepala” kita.<br />
JAdi tampilkan saat interview itu ke-PD-an kita, yang penting pede aja. tentu kita menguasai argumen cita-cita kita.<br />
Misal : cita-cita jadi Pilot, tentu kamu sudah punya argumennya, jelasin aja…bahkan secara mendetail…<br />
OK, semoga sukses..dunia akhirat,…aminn…<br />
Oh iya, dalam waktu dekat buku saya tentang Psikotes terbit, tolong baca dan pahami..__&gt; insyaALLAH SUKSes…!!!</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/271/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/271/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/271/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=271&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/13/konsultasi-sukses-interview/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Lakukan Evaluasi (2.5)</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/04/lakukan-evaluasi-2-5/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/04/lakukan-evaluasi-2-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 14:09:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=269</guid>
		<description><![CDATA[“Seseorang yang sering tidak lulus psikotes, biasanya terkait dengan ketidaktahuannnya
akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes.
Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama”
(Ahmad Nur Irsan Finazli)
SETIAP perusahaan secara berkala akan melakukan proses rutin yang dinamakan sebagai evaluasi, entah job evaluation maupun evaluasi terhadap target perusahaan secara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=269&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“Seseorang yang sering tidak lulus psikotes, biasanya terkait dengan ketidaktahuannnya<br />
akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes.<br />
Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama”<br />
(Ahmad Nur Irsan Finazli)</p>
<p><span id="more-269"></span>SETIAP perusahaan secara berkala akan melakukan proses rutin yang dinamakan sebagai evaluasi, entah job evaluation maupun evaluasi terhadap target perusahaan secara keseluruhan. Betapa pun sibuknya roda perusahaan berputar, mereka tetap menyempatkan untuk melaksanakan ‘ritual’ yang satu ini. Tidak bisa tidak alias keharusan. Entah didalamnya para pemuda atau kalangan tua, wanita maupun pria. Kaidah evaluasi, Berlaku.<br />
Paragraf di atas hanya sebatas contoh saja, yang berlaku bagi semua perusahaan mulai level terendah sampai bonafid. Dengan mengambil contoh di atas, bisa kita tarik ke lapangan rentang usia pemuda. Dimana dinamika pemuda sama rumitnya dengan dinamika perusahaan, bahkan lebih rumit. Ada perusahaan yang baru berkembang, rintisan, maupun perusahaan yang sudah mapan bahkan perusahaan yang pailit atau mungkin bangkrut. Demikian juga pemuda, berlaku hal di atas.<br />
Ada pemuda yang masih hijau –berkembang-, pemuda tanggung, pemuda yang sudah mapan maupun pemuda yang bangkrut sebagai pemuda. Untuk mengetahui posisi pemuda, dimana ia berada, hanya satu jawaban, yakni evaluasi diri. Boleh dievaluasi orang lain maupun diri sendiri. Tapi sebaiknya evaluasi dari dua sisi, internal (diri) dan eksternal (orang lain). Sehingga hasilnya lebih objektif. Evaluasi yang mudah kita pahami adalah menilai diri atau menimbang-nimbang diri atau menghitung-hitung diri dari berbagai macam sisi.<br />
Boleh dari sisi perilaku baik dan buruk, keyakinan yang sudah benar atau tidak, ibadah sesuai tuntunan atau tidak, sisi pemikiran ‘nyeleneh’ atau tidak. Yang kesemua sisi tadi menyatu dalam diri pemuda, keyakinan (aqidah), perilaku (akhlak), ritual (ibadah), dan fikiran (fikrah). Nah, keempat hal inilah yang menyatu dalam diri pemuda, yang nota bene makhluk Allah SWT.<br />
Tidak semua pemuda mengetahui posisinya dimana, boleh jadi anggapan dirinya ia pada posisi aman alias mapan, tetapi dari kacamata luar sesungguhnya dia ada pada posisi pemuda ‘pailit’ yang harus segera dimerger dengan pemuda lain. Contoh kasus, begini, seorang pemuda anu merasa dirinya mempunyai segala hal, sacara kasat mata, memang benar. Ia berkendara mobil roda empat, menenteng telepon genggam keluaran terkini, berpakaian merek mahal mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, perlente-lah. Tetapi segala yang menempel pada dirinya, merupakan barang-barang milik ayahnya alias dimodali oleh bokapnya.<br />
Tampil sempurna menurut kacamata diri, ternyata pailit menurut kacamata orang lain. Terbukti dari aktivitas pemuda tadi yang hanya menghamburkan uang saja –berfoya-foya-. Lain halnya jika pemuda perlente tadi, berperilaku demikian memang dari hasil keringatnya sendiri. Tentu berbeda, penilaian diri dan orang lain. Nah untuk mengetahui posisi pemuda, ya lakukan saja evaluasi.<br />
Memang benar, evaluasi itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada rambu-rambunya, apa dan siapa yang dievaluasi, serta bagaimana pula cara mengevaluasinya. Tak kalah pentingnya, siapa yang seharusnya mengevaluasi. Nah, disinilah biasanya pemuda kebingungan. Dan disini pula banyak sekali profesional yang mengambil untung dari situasi ini.<br />
Padahal, ada cara yang paling mudah yang bisa kita jadikan barometer atau alat timbang-menimbang, yaitu hati kecil kita. Kita sebagai pemuda bisa memanfaatkannya takala kita mengevaluasi diri kita, tatkala menghisab diri kita sebelum dihisab pada hari penghisaban nanti. Hati kecil kita sering membisikkan kebenaran yang seharusnya kita kerjakan, mebisikkan hal yang seharusnya tidak kita kerjakan. Tetapi seringkali nafsu memotongnya dengan menjegal secara keji bisikan suci itu.<br />
Bahkan yang lebih sering lagi, nafsu kita mencampakkannya, meginjak-injaknya dan kemudian memusnahkan tanpa jejak sedikit pun. Walhasil, lenyap tanpa bekas bisikan suci itu. Usia muda memang penuh gejolak membara, tapi mari kita coba mengendalikannya dengan satu semangat demi kesuksesan masa muda yang penuh makna.<br />
Berbicara mengenai hati, terkadang sulit dan berat, termasuk penulis sendiri juga merasakan hal itu. Ada baiknya seorang pemuda pada tingkatan manapun posisinya agar belajar berbesar hati untuk menghargai bisikan suci yang sering muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Mulai kita dengar pendapatnya, kita pertimbangkan advis-advisnya, kemudian kita cari alternatif cara untuk mengamalkannya. Tentu saja dengan sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh atau bermujahadah.<br />
Seorang pemuda juga harus mulai berani melawan hasutan sesat nafsu yang sering muncul secar tiba-tiba. Kita kenali dan cermati perangainya, kita redam gejolaknya, dan kemudian kita arahkan penyalurannya sesuai pada tempatnya. Serta kita sebagai seorang pemuda, sudah merupakan konsekuensi logis kita memulai melatih diri -tadrib- semangat demokratis dalam manajemen diri, yakni mulai memperhatikan bisikan hati nurani dan mengendalikan nafsu.<br />
Sampeyan mau tahu, kerusakan bangsa ini lebih banyak disebabkan oleh para pemuda yang yang tidak kuasa dalam memenangkan bisikan hati nurani dan kelemahan kita dalam mengalahkan kejahatan nafsu diri tatkala menghadapi sebuah permasalahan. Camkan hal ini, semoga para pemuda kita bisa berbenah.<br />
Kita ketahui bersama dalam setiap masalah pasti ada hikmah dibaliknya, tapi bagaimana cara mengambil hikmah tersebut kalau kita tidak pernah melakukan evaluasi diri mendengarkan bisikan hati nurani yang setia. Cermin hati kita akan terlihat aslinya saat kita menghadapi masalah. Oleh karena itu hisablah diri kita selagi di dunia sebelum datang hari pengsisaban sesungguhnya. Muhasabatun nafsi, mengevaluasi diri sendiri.<br />
Dalam kasus yang sangat sempit, psikotes bisa saja menjadi permasalahan pelik yang menggangu seorang pemuda, fresh graduate, atau pun orang tua yang mencari kerja. Tersebutlah dalam sebuah daftar calon pelamar yang setelah melalui berbagai tahapan tes, ia dinyatakan lulus dan berhak untuk mengikuti tes akhir, psikotes. Sebagai seorang yang normal, ia sangat bahagia, tetapi setelah sekian kali mengikuti psikotes, tak kunjung lulus, tak kunjung diterima kerja alias tidak diterima. Kira-kira bagaimana perasaannya?<br />
Tentu sangat kecewa, sedih, bahkan bisa jadi nglokro yang berkepanjangan. Hal ini bisa dianggap wajar ketika seseorang tadi belum mengetahui beberapa kaidah dalam prefentif kekokohan jiwa. Namun menjadi tidak wajar, ketika seseorang tadi telah mengetahui kaidah dalam pengokoh jiwa.<br />
Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap diri untuk mengetahui kaidah ini. Agar tidak jatuh pada permasalahan yang seharusnya tidak perlu direspon dengan kesedihan yang mendalam. Kaidah yang keempat adalah selalu lakukan evaluasi diri. Mengapa saya selalu tidak lulus dalam mengikuti psikotes, padahal sudah sekian kali.<br />
Evaluasi disini, jika sudah sekian kali tidak lulus, sebaiknya melibatkan ahlinya, konsultan psikologi atau psikolog. Biasanya, seseorang yang selalu tidak diterima, terkait dengan ketidaktahuannnya akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes yang selama ini ia ikuti. Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama.<br />
Untuk mengetahui penyebab ketidaklulusannya, maka lakukan evaluasi secara berkala dengan ahlinya. Pasti akan ketemu penyebabnya, walhasil sukses menemukan potensi diri untuk berkiprah pada lapangan pekerjan yang sesuai. Pegawai, pengusaha atau investor bahkan owner perusahaan. Silakan mencoba kaidah ini. Saya yakin pasti berhasil, insyaALLAH. Wallahu a’lam.***</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/269/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/269/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/269/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=269&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/10/04/lakukan-evaluasi-2-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Soal Psikotes, Kog Diulang-ulang</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/09/30/soal-kog-diulang-ulang/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/09/30/soal-kog-diulang-ulang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 06:15:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=263</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli
Bang Anton : “Dalam suatu tes kepribadian, soal kadang-kadang diulang, saya sempat bingung untuk kedua soal tersebut, karena kedua jawabannya ada pada diri saya”.
PENGULANGAN itu penting. Berapa banyak sih, aitem soal yang diulang-ulang dalam berbagai macam tes, tergantung dari si pembuat tes tersebut. Telah kita ketahui bersama bahwa kepribadian sesorang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=263&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli</p>
<p>Bang Anton : “Dalam suatu tes kepribadian, soal kadang-kadang diulang, saya sempat bingung untuk kedua soal tersebut, karena kedua jawabannya ada pada diri saya”.</p>
<p>PENGULANGAN itu penting. Berapa banyak sih, aitem soal yang diulang-ulang dalam berbagai macam tes, tergantung dari si pembuat tes tersebut. Telah kita ketahui bersama bahwa kepribadian sesorang itu bisa berubah dan bermacam-macam hal penyebabnya. Sebagaimana berbagai hal yang hidup itu dinamis, demikian juga kepribadian kita.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/263/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/263/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/263/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=263&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/09/30/soal-kog-diulang-ulang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jadilah Bintang Psikotes</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/09/30/jadilah-bintang-psikotes/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/09/30/jadilah-bintang-psikotes/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Sep 2009 04:13:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/09/30/jadilah-bintang-psikotes/</guid>
		<description><![CDATA[“Dalam psikotes pun ada peserta yang menjadi bintang,
mereka inilah yang memicu dan memacu proses psikotes jadi lancar.
Mereka inilah yang sering dicari oleh tester”
(Ahmad Nur Irsan Finazli)
Psikotes yang berjalan lancar, menjadi idaman bagi semua penyelenggara. Secara umum psikotes bisa dikatakan lancar jika pelaksanaannya sesuai dengan waktu yang tersedia bagi tiap-tiap aitem tes, ditambah dengan waktu pemberian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=260&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>“Dalam psikotes pun ada peserta yang menjadi bintang,<br />
mereka inilah yang memicu dan memacu proses psikotes jadi lancar.<br />
Mereka inilah yang sering dicari oleh tester”<br />
(Ahmad Nur Irsan Finazli)</p>
<p>Psikotes yang berjalan lancar, menjadi idaman <span id="more-260"></span>bagi semua penyelenggara. Secara umum psikotes bisa dikatakan lancar jika pelaksanaannya sesuai dengan waktu yang tersedia bagi tiap-tiap aitem tes, ditambah dengan waktu pemberian instruksi dan sesi pertanyaan. Kesuksesan jalannya psikotes ini, telah kita bahas pada bab sebelumnya. Namun ternyata ada sisi lain bagi kesuksesan pelaksanaan psikotes tersebut, yakni seorang peserta atau sebagian peserta yang bisa menjadi ‘bintang’.<br />
Sebelum kita bahas lebih lanjut, saya akan mencontohkan psikotes yang berjalan tidak sukses. Dengan harapan untuk memperjelas apa dan siapa Si ‘Bintang’ itu. Pada suatu daerah, tersebutlah kondisi masyarakat yang dikenal keras. Ada sebuah perusahaan nasional yang sedang membuka cabang didaerah tersebut. Beberapa kriteria calon karyawannya telah dipublikasi, yang salah satunya engutamakan penduduk setempat yang memenuhi kriteria. Bagaimana ceritanya?<br />
Begini, Pada saat seleksi berkas diterimalah empat ratus calon karyawan yang memenuhi syarat. Ketika terjadi tahapan akhir tes, psikotes. Tersaringlah hanya menjadi 200 orang saja sebagai calon karyawan, dimana  yang akan diambil 140 orang saja. Nah, saat terlaksananya psikotes, ada sebagian besar penduduk setempat yang tersaring sehingga mereka berhak mengikuti psikotes. Namun ternyata, sebagian kecil dari mereka kurang percaya diri akan kemampuannya. Ketidak-pede-annya diaktualisasikan dengan membawa senjata tajam untuk menakut-nakuti psikolog atau tester yang melakukan psikotes. Mengancam akan membunuh jika tidak diterima atau tidak lulus psikotes.<br />
Sontak memang terjadi keributan ditempat psikotes, sehingga proses psikotesnya menjadi molor bahkan dibatalkan. Padahal proses psikotes sedang berjalan. Nah, saudara semua, siapa yang rugi?. Hal ini seringkali terjadi, psikotes dalam pengawasan pihak berwajib, polisi. Walhasil, proses psikotes akhirnya menjadi ajang unjuk senjata. Yach, minimal pisau dari para peserta psikotes dan senapan dari pihak polisi. Psikotes menjadi mencekam, lawan dari sukses yang terjadi. Disinilah, yang saya namakan bintang penggagalan proses psikotes. Siapa?, pengacau dari pihak peserta sendiri.<br />
Bertolak dari kisah di atas, saya kira Anda paham maksud saya, siapa bintang psikotes itu. Si ‘Bintang’ psikotes adalah dia yang menjadikan proses psikotes menjadi berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Bintang disini, tidak harus satu orang bahkan harapannya semua pesetra bisa menjadi bintang.<br />
Bagaimana penerapannya untuk bisa menjadi bintang. Tentu Anda paham, bahwa psikotes juga merupakan sebuah acara resmi. Sehingga, tentu memerlukan pembukaan, perkenalan, pendahuluan, penutupan, ada instruksi tes, sesi pertanyaan atau tanya jawab seputar cara menjawab aitem soal psikotes, juga ada aturan meminta izin untuk keluar ruangan. Nah, Si Bintang tadi akan menempatkan diri sebagai peserta teladan. Mendengarkan seluruh perintah atau instruksi tester, mengkuti acara pembukaan, pendahuluan, perkenalan, dan penutupan sesuai dengan waktunya.<br />
Menempatkan diri sesuai suasana dan situasi saat psikotes, yang biasa disingkat ‘susi’. Atau menempatkan diri pada posisi yang tepat waktunya. Ketika acara dibuka, dia ikut dalam pembukaan bahkan seluruh sesi diikutinya dengan penuh semangat. Terlebih ketika berlangsung instruksi, dia mendengarkan dengan seksama tanpa bertanya. Waktu tiba sesi pertanyaan, jika dirinya belum paham maka betanya, demikian sebaliknya. Sehingga lancar ‘susi’-nya, lancar psikotesnya.<br />
Bukan sebaliknya, saat sesi pembacaan tata tertib peserta psikotes, dia ramai sendiri. Diminta me-nonaktifkan HP, tidak dituruti. Saat sesi instruksi tes, dia malah bertanya. Pada saat sesi pertanyaan, malah ramai atau diam saja. Lebih parahnya lagi, pada sesi pengerjaan soalnya, dia malah bertanya dengan suara yang menggangu peserta lain yang sedang konsentrasi menjawab soal. Inilah yang fenomena yang sering terjadi, yang kurang diperhatikan sebaian besar peserta tes. Padahal terkesan sepele namun justru sangat menentukan kesuksesan jalannya psikotes dan juga hasil dari psikotes.<br />
Ingat, tester mempunyai lembar penilaian tersendiri terhadap peserta psikotes, yang nantinya akan dipakai untuk menambah informasi hasil psikotes dari sisi observasi. Misalnya begini, hasil dari psikotes menunjukkan nilai yang cenderung sangat rendah. Hal ini akan dicrosscheque dengan lembar observasi, oh ternyata peserta tadi memang tidak mengerjakan gara-gara sakit kepala atau stres dan lain-lain penyebabnya.<br />
Atau demikian sebaliknya, seorang peserta mempunyai nilai yang cenderung tinggi sekali, padahal dari nilai-nilai ijazahnya biasa aja. Oh ternyata dari lembar observasi, diketahui memang dia suka mencontek kawan peserta sebelahnya yang pandai. Bahkan mungkin membawa contekan, dan seterusnya.<br />
Lalu bagaimana dengan dengan hasi tes kepribadian atau sikap kerja?. Intinya sama saja, tester mempunyai lembar observasi yang bisa dipakai sebagai bahan pengecek-an untuk mendapatkan hasil yang lebih menyeluruh dari berbagai sudut pandang. Artinya, janganlah sepelekan hal-hal yang ringan namun juga jangan anggap ringan hal-hal yang terkesan sepele sebagaimana sesi-sesi dalam psikotes. Karena semua proses mempunyai makna dan arti psikologis tersendiri yang akan mempengaruhi hasil psikotes Anda.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/260/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/260/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/260/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=260&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/09/30/jadilah-bintang-psikotes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tes IQ untuk Industri</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/08/22/tes-iq-untuk-industri/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/08/22/tes-iq-untuk-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Aug 2009 03:13:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=256</guid>
		<description><![CDATA[
Oleh Ahmad Nur Irsan Finazli*
Dunia industri tak akan pernah sepi dari yang namanya kebutuhan tenaga kerja. Mulai dari pencarian tenaga kerja pada bank data, sampai pada usaha dengan cara membuka lowongan di media. Apa sebenarnya itu psikotes dalam dunia industri? Aspek apa saja yang diungkap, dan bagaimana sebenarnya letak strategis dari psikotes dalam dunia industri [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=256&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-257" title="gaya pak irsan" src="http://irsanfinazli.files.wordpress.com/2009/08/gaya-pak-irsan.jpg?w=300&#038;h=247" alt="gaya pak irsan" width="300" height="247" /><br />
Oleh Ahmad Nur Irsan Finazli*</p>
<p>Dunia industri tak akan pernah sepi dari yang namanya kebutuhan tenaga kerja. Mulai dari pencarian tenaga kerja pada bank data, sampai pada usaha dengan cara membuka lowongan di media. Apa sebenarnya itu psikotes dalam dunia industri? <span id="more-256"></span>Aspek apa saja yang diungkap, dan bagaimana sebenarnya letak strategis dari psikotes dalam dunia industri dewasa ini. Mari kita masuk kedalamnya.<br />
Proses seleksi yang terjadi pada dunia industri tak pernah lepas dari psikotes. Perlu diingat bahwa seleksi tak sama dengan psikotes. Seleksi cakupannya lebih luas dari psikotes, artinya psikotes hanya merupakan satu alat untuk mengungkap atau memprediksi calon tenaga kerja ketika nanti bekerja di industri tempat psikotes dilakukan.<br />
Psikotes dalam dunia usaha sebenarnya telah lama dilakukan oleh para pemilik perusahaan baik yang lokal sampai internasional. Walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Lalu aspek apa saja yang biasanya dites-kan. Yang sangat mencuat beberapa anggapan dari masyarakat kita adalah “psikotes itu ya tes IQ”.<br />
Padahal dalam proses psikotes itu, banyak meyangkut beberapa aspek. Pertama, aspek kecerdasan sering disebut sebagai tes IQ. Kedua, aspek Sikap Kerja yang sering disebut sebagai tes kecakapan kerja. Ketiga, aspek yang ada dalam diri manusia berupa kebiasaan, kesukaan, cara bertindak, emosinya, dimana sering disebut sebagai tes keprbadian. Keempat, aspek yang sangat dipentingkan bagi para calon tenaga kerja untuk tingkat manajerial, sering disebut sebagai tes tipe kepribadian.<br />
Aspek kecerdasan yang bagaimana?, tak mudah ternyaa mencari calon karyawan yang ber-IQ tinggi. Sebab standard yang dipakai untuk calon karyawan perusahaan ini adalah high stndard.</p>
<p>Bersambung &#8230;</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/256/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/256/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/256/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=256&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/08/22/tes-iq-untuk-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irsanfinazli.files.wordpress.com/2009/08/gaya-pak-irsan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">gaya pak irsan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TES, Saya Orangtua yang Selalu Sibuk…</title>
		<link>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/08/13/tes-saya-orangtua-yang-selalu-sibuk%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/08/13/tes-saya-orangtua-yang-selalu-sibuk%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 04:58:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irsanfinazli</dc:creator>
				<category><![CDATA[Psikologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irsanfinazli.wordpress.com/?p=251</guid>
		<description><![CDATA[
Apakah yang akan Anda lakukan apabila Anda merasa bahwa anak Anda membutuhkan waktu yang lebih banyak dari Anda, sementara pada waktu yang sama, Anda sangat sibuk dan sangat terikat dengan pekerjaan-pekerjaan Anda?
Pilihlah Jawaban Anda, dengan sejujurnya… (dengan cara dilingkari pada huruf)
A.    Saya akan meminta suami/ istri agar memberikan waktu lebih banyak untuk menemani mereka di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=251&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="aligncenter size-medium wp-image-252" title="irsan and family" src="http://irsanfinazli.files.wordpress.com/2009/08/irsan.jpg?w=300&#038;h=200" alt="irsan and family" width="300" height="200" /><br />
Apakah yang akan Anda lakukan apabila Anda merasa bahwa anak Anda membutuhkan waktu yang lebih banyak dari Anda, sementara pada waktu yang sama, Anda sangat sibuk dan sangat terikat dengan pekerjaan-pekerjaan Anda?<br />
Pilihlah Jawaban Anda, dengan sejujurnya… <span id="more-251"></span>(dengan cara dilingkari pada huruf)<br />
A.    Saya akan meminta suami/ istri agar memberikan waktu lebih banyak untuk menemani mereka di rumah. Jika terpaksa, saya rasa tidak masalah bila harus melarang bapak/ ibu keluar.<br />
B.    Saya akan memanfaatkan waktu-waktu tertentu dalam setiap hari yang selama ini telah saya berikan untuk mereka, yaitu ketika makan bersama. Apabila mereka menghadapi suatu masalah, saya akan mengarahkan mereka untuk menyelesaikan nya sendiri, agar kepribadian mereka terbentuk sejak dini.<br />
C.    Saya akan berusaha mengatur waku saya kembali, dan akan mendahulukan urusan-urusan yang lebih penting bagi hidup saya. Saya melihat bahwa mendidik dan menjaga anak adalah tangung jawab kedua orangtua, baik ibu maupun ayah. Karena itu, sebagai seorang ayah atau ibu, peran saya didalam mendidik anak harus jelas.</p>
<p><strong>Selanjutnya mari kita lihat tipe kepribadian Anda.</strong><br />
Jika jawabannya A. <strong>Anda tipe orangtua yang menyerahkan tanggung jawab pendidikan anak hanya kepada istri/suami Anda.</strong><br />
Anda orang yang sibuk dan tanggung jawab diluar rumah sangat besar, sehingga…<br />
Tanggung jawab pendidikan adalah tanggung jawab pasangan Anda, …<br />
Sayang cara pandang Anda kurang luas, anak Anda akan menjadi remaja dan dia membutuhkan figur ayah/ ibu yang dapat memberikan pandangan dan nasehat-nasehat kepada mereka.<br />
Ingat…! Jika Anda sama sekali tidak berperan dalam mendidik mereka, ditengah-tengah kita akan lahir generasi muda yang masih sangat membutuhkan pendidikan ulang.<br />
Tidakkah Anda sepakat jika kami katakan bahwa anak Anda adalah harta paling berharga yang kita miiki dan yang membutuhkan pendidik terbaik dari kita? Oleh karena itu, mulailah dari sekarang, jangan sampai Anda menyesal kemudian!</p>
<p>Jawaban Anda B, maka <strong>Anda tipe orangtua yang membatasi waktu bertemu dengan anak satu jam saja.</strong><br />
Bisa jadi Anda adalah orang yang berkeyakinan bahwa didalam belajar, anak Anda mesti melakukan kesalahan, supaya berkepribadian kuat dangan belajar dari pengalamannya. Akan tetapi Anda lupa, dengan sedikit waktu yang Anda berikan kepadanya, boleh jadi pengalaman yang ia daptkan bertolak belakang dengan apa yang Anda harapkan. Berpikirlah untuk menambahkan waktu duduk dan berbincang bersama mereka. Hendaknya waktu-waktu yang Anda berikan untuk mereka benar-benar bermanfaat dan berpengaruh dalam pembentukan kepribadiannya.<br />
Jawaban Anda C, maka <strong>Anda termasuk tipe orangtua yang memprioritaskan hal-hal yang lebih penting.</strong><br />
Anda seorang yang selalu sibuk, Anda mengharapkan anak-anak Anda melihat pentingnya keberadaan Anda bersama mereka. Anda berusaha menyisihkan banyak waktu untuk duduk bersama mereka. Ternyata Anda selalu sukses dalam melaksanakan usaha tersebut, sehingga anak-anak Anda benar-benar dapat memanfaatkan waktu duduk Anda bersama mereka.<br />
Banyak hal yang dapat Anda lakukan ketika duduk bersama mereka :<br />
•    Anda dapat berbincang bersama mereka<br />
•    Bermain bersama mereka<br />
•    Mendengarkan peristiwa-peristiwa yang mereka alami didalam kehidupan mereka<br />
Bagaima mungkin saya dapat melakukan semua itu, sibuk dengan kerjaan dan dapat menjadi orangtua atau pendidik yang baik? Inilah fakta dan caranya:<br />
•    Jika ia memiliki pekerjaan yang memungkinkan untuk membawa anaknya, ia akan membawa salah satu anaknya.<br />
•    Selalu menyempatkan diri untuk makan bersama. Berdialog, bercanda, bertanya tentang kawannya, bermusyawarah, dll.<br />
•    Waktu-waktu kosongnya selalu dihabiskan dirumah bersama keluarga dan anak-anaknya.<br />
•    Apabila ia memiliki pekerjaan yang mengharuskannya untuk membawa mobil dalam waktu yang lama, ia membawa salah satu anaknya sebagai teman dalam perjalanan.<br />
•    Libur setiap akhir pekan selalu dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga.<br />
•    Selalu menyempatkan diri untuk duduk bersama diruang tidur anaknya, dan berusaha untuk memberikan sesuatu yang dapat membuatnya gembira, baik dengan bercerita tentang kisah teladan atau hanya sekedar berbincang.<br />
•    Pada liburan setiap akhir pekan, ia selalu berusaha untuk menjadi sosok laki-laki yang lain bagi anak-anaknya. Ia tidak membaca, menulis, menelpon, tidak melihat televisi. Ia menghabiskan waktunya untuk bermain bersama anak-anaknya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irsanfinazli.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irsanfinazli.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irsanfinazli.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irsanfinazli.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irsanfinazli.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irsanfinazli.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irsanfinazli.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irsanfinazli.wordpress.com/251/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irsanfinazli.wordpress.com/251/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irsanfinazli.wordpress.com/251/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irsanfinazli.wordpress.com&blog=1471919&post=251&subd=irsanfinazli&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irsanfinazli.wordpress.com/2009/08/13/tes-saya-orangtua-yang-selalu-sibuk%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/23b26d9272b20b26fd5c83c06b6e4664?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irsanfinazli</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irsanfinazli.files.wordpress.com/2009/08/irsan.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">irsan and family</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>