Meningkatkan Minat dan Prestasi Belajar

Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*

“Mendidik orangtua terlebih dulu jauh lebih penting daripada mendidik anak”
(Ahmad Nur Irsan Finazli)

Bapak ibu sekalian, tulisan ini hanya sekedar sharing sharing dari saya, dan juga sarana saling mengingatkan diantara kita sesama orangtua pengemban amanah Allah SWT. Ada kata-kata seorang ulama besar, “Pendidikan bukanlah segala-galanya, akan tetapi segala-galanya dimulai dari pendidikan”. Hal ini mengandung arti bahwa untuk setiap posisi, jabatan, pekerjaan atau apapun namanya bisa dipastikan menyaratkan batasan minimal kemampuan sesorang.
Menumbuhkan minat belajar pada anak harus dipahami dari berbagai sudut pandang, pertama minat yang dikaitkan dengan belajar dalam arti umum (berlaku untuk semua). Kedua, minat yang kita kaitkan dengan hobi.
Nah, dalam pertemuan kedua kali ini, setelah yang pertama kita membahas Karakter Anak, maka hari ini kisi-kisi materi yang akan kita sharing-kan adalah sebagai berikut.
1.    Macam-macam Gaya Belajar Anak
Kalau kita cermati, ternyata ada tiga gaya belajar anak yang masingmasing dengan ciri khususnya. Gaya belajar VISUAL, dimana anak suka belajar dengan cara membaca pelajaran dan menuliskannya. Seorang Muslim sangat diharapkan seimbang dalam membaca dan menulis.
Gaya belajar AUDITORI yang peka dengan cara mendengar orang lain membacakan pelajaran untuknya. Makanya, latihlah anak kita merekam suaranya sendiri dalam mata pelajaran, dan dia akan senang mendengarnya kembali sehingga mata pelajaran bisa dipahaminya dengan baik.
Gaya belajar KINESTETIK, dimana anak selalu ingin bergerak. Materi pelajaran bisa masuk, jika dibarengkan dengan sebuah aktivitas gerak si anak. Misal : belajar sambil naik odong-odong.
2.    Bentuk-bentuk Pemberian Motivasi
-Bapak dan ibu sekalian, pada intinya kita hanya perlu memegang prinsipnya saja, yakni memotivasi anak dengan cara pemberian reward dan punishment. Untuk saat ini ditambah satu aspek lagi, pembimbingan. Hanya saja harus diketahui mana yang lebih efektif?
Salah satu contohnya: Sering membaca Biografi Tokoh Dunia (cendekia, pembaharu, ilmuan, dll)
-Belajar bukanlah soal kapan dan dimana, akan tetapi yang terpenting adalah hatinya (melibatkan emosi, senang gembira ceria)
-Belajar bukan hanya tugas mata dan telinga tetapi juga tugas tangan dan kaki, maka belajar jadi lebih menyenangkan bagi anak.
3.    Peran Orangtua dalam Proses Belajar Anak
Peran penting orangtua yang sering dilupakan adalah sebagai fasilitator, bukan ‘pemaksa kehendak’. Atau dengan kata lain memberikan tauladan (ing ngarso sung tulada).
4.    Cara Bersikap Terhadap Anak Atas Perilaku Malas Belajar
i)    Cari penumbuh motivasi anak, kita lihat dari gaya belajar anak
ii)    Melibatkan unsur emosi anak (permainan dan imajinasi, senang gembira, sumringah)
iii)    Irama dan musik
iv)    Out of line (keluar dari kebiasaan)
v)    Ciptakan Learning Culture, bukan sekedar Learning Habit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s