Jadilah Bintang Psikotes

“Dalam psikotes pun ada peserta yang menjadi bintang,
mereka inilah yang memicu dan memacu proses psikotes jadi lancar.
Mereka inilah yang sering dicari oleh tester”
(Ahmad Nur Irsan Finazli)

Psikotes yang berjalan lancar, menjadi idaman bagi semua penyelenggara. Secara umum psikotes bisa dikatakan lancar jika pelaksanaannya sesuai dengan waktu yang tersedia bagi tiap-tiap aitem tes, ditambah dengan waktu pemberian instruksi dan sesi pertanyaan. Kesuksesan jalannya psikotes ini, telah kita bahas pada bab sebelumnya. Namun ternyata ada sisi lain bagi kesuksesan pelaksanaan psikotes tersebut, yakni seorang peserta atau sebagian peserta yang bisa menjadi ‘bintang’.
Sebelum kita bahas lebih lanjut, saya akan mencontohkan psikotes yang berjalan tidak sukses. Dengan harapan untuk memperjelas apa dan siapa Si ‘Bintang’ itu. Pada suatu daerah, tersebutlah kondisi masyarakat yang dikenal keras. Ada sebuah perusahaan nasional yang sedang membuka cabang didaerah tersebut. Beberapa kriteria calon karyawannya telah dipublikasi, yang salah satunya engutamakan penduduk setempat yang memenuhi kriteria. Bagaimana ceritanya?
Begini, Pada saat seleksi berkas diterimalah empat ratus calon karyawan yang memenuhi syarat. Ketika terjadi tahapan akhir tes, psikotes. Tersaringlah hanya menjadi 200 orang saja sebagai calon karyawan, dimana yang akan diambil 140 orang saja. Nah, saat terlaksananya psikotes, ada sebagian besar penduduk setempat yang tersaring sehingga mereka berhak mengikuti psikotes. Namun ternyata, sebagian kecil dari mereka kurang percaya diri akan kemampuannya. Ketidak-pede-annya diaktualisasikan dengan membawa senjata tajam untuk menakut-nakuti psikolog atau tester yang melakukan psikotes. Mengancam akan membunuh jika tidak diterima atau tidak lulus psikotes.
Sontak memang terjadi keributan ditempat psikotes, sehingga proses psikotesnya menjadi molor bahkan dibatalkan. Padahal proses psikotes sedang berjalan. Nah, saudara semua, siapa yang rugi?. Hal ini seringkali terjadi, psikotes dalam pengawasan pihak berwajib, polisi. Walhasil, proses psikotes akhirnya menjadi ajang unjuk senjata. Yach, minimal pisau dari para peserta psikotes dan senapan dari pihak polisi. Psikotes menjadi mencekam, lawan dari sukses yang terjadi. Disinilah, yang saya namakan bintang penggagalan proses psikotes. Siapa?, pengacau dari pihak peserta sendiri.
Bertolak dari kisah di atas, saya kira Anda paham maksud saya, siapa bintang psikotes itu. Si ‘Bintang’ psikotes adalah dia yang menjadikan proses psikotes menjadi berjalan lancar tanpa gangguan yang berarti. Bintang disini, tidak harus satu orang bahkan harapannya semua pesetra bisa menjadi bintang.
Bagaimana penerapannya untuk bisa menjadi bintang. Tentu Anda paham, bahwa psikotes juga merupakan sebuah acara resmi. Sehingga, tentu memerlukan pembukaan, perkenalan, pendahuluan, penutupan, ada instruksi tes, sesi pertanyaan atau tanya jawab seputar cara menjawab aitem soal psikotes, juga ada aturan meminta izin untuk keluar ruangan. Nah, Si Bintang tadi akan menempatkan diri sebagai peserta teladan. Mendengarkan seluruh perintah atau instruksi tester, mengkuti acara pembukaan, pendahuluan, perkenalan, dan penutupan sesuai dengan waktunya.
Menempatkan diri sesuai suasana dan situasi saat psikotes, yang biasa disingkat ‘susi’. Atau menempatkan diri pada posisi yang tepat waktunya. Ketika acara dibuka, dia ikut dalam pembukaan bahkan seluruh sesi diikutinya dengan penuh semangat. Terlebih ketika berlangsung instruksi, dia mendengarkan dengan seksama tanpa bertanya. Waktu tiba sesi pertanyaan, jika dirinya belum paham maka betanya, demikian sebaliknya. Sehingga lancar ‘susi’-nya, lancar psikotesnya.
Bukan sebaliknya, saat sesi pembacaan tata tertib peserta psikotes, dia ramai sendiri. Diminta me-nonaktifkan HP, tidak dituruti. Saat sesi instruksi tes, dia malah bertanya. Pada saat sesi pertanyaan, malah ramai atau diam saja. Lebih parahnya lagi, pada sesi pengerjaan soalnya, dia malah bertanya dengan suara yang menggangu peserta lain yang sedang konsentrasi menjawab soal. Inilah yang fenomena yang sering terjadi, yang kurang diperhatikan sebaian besar peserta tes. Padahal terkesan sepele namun justru sangat menentukan kesuksesan jalannya psikotes dan juga hasil dari psikotes.
Ingat, tester mempunyai lembar penilaian tersendiri terhadap peserta psikotes, yang nantinya akan dipakai untuk menambah informasi hasil psikotes dari sisi observasi. Misalnya begini, hasil dari psikotes menunjukkan nilai yang cenderung sangat rendah. Hal ini akan dicrosscheque dengan lembar observasi, oh ternyata peserta tadi memang tidak mengerjakan gara-gara sakit kepala atau stres dan lain-lain penyebabnya.
Atau demikian sebaliknya, seorang peserta mempunyai nilai yang cenderung tinggi sekali, padahal dari nilai-nilai ijazahnya biasa aja. Oh ternyata dari lembar observasi, diketahui memang dia suka mencontek kawan peserta sebelahnya yang pandai. Bahkan mungkin membawa contekan, dan seterusnya.
Lalu bagaimana dengan dengan hasi tes kepribadian atau sikap kerja?. Intinya sama saja, tester mempunyai lembar observasi yang bisa dipakai sebagai bahan pengecek-an untuk mendapatkan hasil yang lebih menyeluruh dari berbagai sudut pandang. Artinya, janganlah sepelekan hal-hal yang ringan namun juga jangan anggap ringan hal-hal yang terkesan sepele sebagaimana sesi-sesi dalam psikotes. Karena semua proses mempunyai makna dan arti psikologis tersendiri yang akan mempengaruhi hasil psikotes Anda.

One response to “Jadilah Bintang Psikotes

  1. assalamualalaikum ww,

    mas setelah membaca artikel mas, saya baru menyadari bahwa tindakan saya pada saat test mungkin atau bermasalah menurut psikoter
    storynya begini mas:

    Saya di panggil di salah satu perusahaan, tadinya saya tidak terlalu optimis di panggil, alhamdulillah di paggil, kemudian saya berpikir ini adalah kesempatan, yang penting saya berusaha semaksimal mumngkin hal ini karena lokasi test di Jakarta Mas, tempat tujuan aja masih di cari2, alhamdulillah teman saya di pondok, kuliah di UIN saya hub beliau, lokasi test semua sudah diketahuinya saya tiba di Jkt jam 01. 00 WIB pagi subuh sudah harus berangkat ke lokasi test saya tetap semangat,

    1 jam sebelum tes saya sudah tiba sarapan di lokasi berhubung menurut teman saya lebih baik sarapannya disana, masih ada waktu saya untuk santai dan berpikir, kemudian tes di mulai sampai ada waktu istrahat, semua saya laksanakan apa adanya.

    kemudian saya ndak tau kalau masih ada test lanjutan, kemudian saya makan, setelah itu duduk sebentar kemudian ngambil wudhu saya lihat tema-teman tes sudah masuk, tadinya saya hendak menunda sholat saya, saya pikir testnya akan berakhir sampai sore, kmudian kebetulan tempat sholanya di sekitar lokasi tes, saya langsung sholat aja saya pikir ini tuhan maha tahu, kmudian saya cepat2 sholat sampai terdengar oleh saya pada saat rakaat terakhir kita tunggu teman kita sedang sholat sebentar terdangar dari suara instruktur, kemudian saya selesai sholat tes dimualai;
    pertanyaan saya apakah secara psikotes menurut pengalaman mas tindakan saya merupakan tindakan negative, karena saya pikir setiap orang harus menghargai orang yang melaksanakan ibadah.

    wassalam;

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s