Lakukan Evaluasi (2.5)

“Seseorang yang sering tidak lulus psikotes, biasanya terkait dengan ketidaktahuannnya
akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes.
Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama”
(Ahmad Nur Irsan Finazli)

SETIAP perusahaan secara berkala akan melakukan proses rutin yang dinamakan sebagai evaluasi, entah job evaluation maupun evaluasi terhadap target perusahaan secara keseluruhan. Betapa pun sibuknya roda perusahaan berputar, mereka tetap menyempatkan untuk melaksanakan ‘ritual’ yang satu ini. Tidak bisa tidak alias keharusan. Entah didalamnya para pemuda atau kalangan tua, wanita maupun pria. Kaidah evaluasi, Berlaku.
Paragraf di atas hanya sebatas contoh saja, yang berlaku bagi semua perusahaan mulai level terendah sampai bonafid. Dengan mengambil contoh di atas, bisa kita tarik ke lapangan rentang usia pemuda. Dimana dinamika pemuda sama rumitnya dengan dinamika perusahaan, bahkan lebih rumit. Ada perusahaan yang baru berkembang, rintisan, maupun perusahaan yang sudah mapan bahkan perusahaan yang pailit atau mungkin bangkrut. Demikian juga pemuda, berlaku hal di atas.
Ada pemuda yang masih hijau –berkembang-, pemuda tanggung, pemuda yang sudah mapan maupun pemuda yang bangkrut sebagai pemuda. Untuk mengetahui posisi pemuda, dimana ia berada, hanya satu jawaban, yakni evaluasi diri. Boleh dievaluasi orang lain maupun diri sendiri. Tapi sebaiknya evaluasi dari dua sisi, internal (diri) dan eksternal (orang lain). Sehingga hasilnya lebih objektif. Evaluasi yang mudah kita pahami adalah menilai diri atau menimbang-nimbang diri atau menghitung-hitung diri dari berbagai macam sisi.
Boleh dari sisi perilaku baik dan buruk, keyakinan yang sudah benar atau tidak, ibadah sesuai tuntunan atau tidak, sisi pemikiran ‘nyeleneh’ atau tidak. Yang kesemua sisi tadi menyatu dalam diri pemuda, keyakinan (aqidah), perilaku (akhlak), ritual (ibadah), dan fikiran (fikrah). Nah, keempat hal inilah yang menyatu dalam diri pemuda, yang nota bene makhluk Allah SWT.
Tidak semua pemuda mengetahui posisinya dimana, boleh jadi anggapan dirinya ia pada posisi aman alias mapan, tetapi dari kacamata luar sesungguhnya dia ada pada posisi pemuda ‘pailit’ yang harus segera dimerger dengan pemuda lain. Contoh kasus, begini, seorang pemuda anu merasa dirinya mempunyai segala hal, sacara kasat mata, memang benar. Ia berkendara mobil roda empat, menenteng telepon genggam keluaran terkini, berpakaian merek mahal mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki, perlente-lah. Tetapi segala yang menempel pada dirinya, merupakan barang-barang milik ayahnya alias dimodali oleh bokapnya.
Tampil sempurna menurut kacamata diri, ternyata pailit menurut kacamata orang lain. Terbukti dari aktivitas pemuda tadi yang hanya menghamburkan uang saja –berfoya-foya-. Lain halnya jika pemuda perlente tadi, berperilaku demikian memang dari hasil keringatnya sendiri. Tentu berbeda, penilaian diri dan orang lain. Nah untuk mengetahui posisi pemuda, ya lakukan saja evaluasi.
Memang benar, evaluasi itu tak semudah membalikkan telapak tangan. Harus ada rambu-rambunya, apa dan siapa yang dievaluasi, serta bagaimana pula cara mengevaluasinya. Tak kalah pentingnya, siapa yang seharusnya mengevaluasi. Nah, disinilah biasanya pemuda kebingungan. Dan disini pula banyak sekali profesional yang mengambil untung dari situasi ini.
Padahal, ada cara yang paling mudah yang bisa kita jadikan barometer atau alat timbang-menimbang, yaitu hati kecil kita. Kita sebagai pemuda bisa memanfaatkannya takala kita mengevaluasi diri kita, tatkala menghisab diri kita sebelum dihisab pada hari penghisaban nanti. Hati kecil kita sering membisikkan kebenaran yang seharusnya kita kerjakan, mebisikkan hal yang seharusnya tidak kita kerjakan. Tetapi seringkali nafsu memotongnya dengan menjegal secara keji bisikan suci itu.
Bahkan yang lebih sering lagi, nafsu kita mencampakkannya, meginjak-injaknya dan kemudian memusnahkan tanpa jejak sedikit pun. Walhasil, lenyap tanpa bekas bisikan suci itu. Usia muda memang penuh gejolak membara, tapi mari kita coba mengendalikannya dengan satu semangat demi kesuksesan masa muda yang penuh makna.
Berbicara mengenai hati, terkadang sulit dan berat, termasuk penulis sendiri juga merasakan hal itu. Ada baiknya seorang pemuda pada tingkatan manapun posisinya agar belajar berbesar hati untuk menghargai bisikan suci yang sering muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Mulai kita dengar pendapatnya, kita pertimbangkan advis-advisnya, kemudian kita cari alternatif cara untuk mengamalkannya. Tentu saja dengan sebuah perjuangan yang sungguh-sungguh atau bermujahadah.
Seorang pemuda juga harus mulai berani melawan hasutan sesat nafsu yang sering muncul secar tiba-tiba. Kita kenali dan cermati perangainya, kita redam gejolaknya, dan kemudian kita arahkan penyalurannya sesuai pada tempatnya. Serta kita sebagai seorang pemuda, sudah merupakan konsekuensi logis kita memulai melatih diri -tadrib- semangat demokratis dalam manajemen diri, yakni mulai memperhatikan bisikan hati nurani dan mengendalikan nafsu.
Sampeyan mau tahu, kerusakan bangsa ini lebih banyak disebabkan oleh para pemuda yang yang tidak kuasa dalam memenangkan bisikan hati nurani dan kelemahan kita dalam mengalahkan kejahatan nafsu diri tatkala menghadapi sebuah permasalahan. Camkan hal ini, semoga para pemuda kita bisa berbenah.
Kita ketahui bersama dalam setiap masalah pasti ada hikmah dibaliknya, tapi bagaimana cara mengambil hikmah tersebut kalau kita tidak pernah melakukan evaluasi diri mendengarkan bisikan hati nurani yang setia. Cermin hati kita akan terlihat aslinya saat kita menghadapi masalah. Oleh karena itu hisablah diri kita selagi di dunia sebelum datang hari pengsisaban sesungguhnya. Muhasabatun nafsi, mengevaluasi diri sendiri.
Dalam kasus yang sangat sempit, psikotes bisa saja menjadi permasalahan pelik yang menggangu seorang pemuda, fresh graduate, atau pun orang tua yang mencari kerja. Tersebutlah dalam sebuah daftar calon pelamar yang setelah melalui berbagai tahapan tes, ia dinyatakan lulus dan berhak untuk mengikuti tes akhir, psikotes. Sebagai seorang yang normal, ia sangat bahagia, tetapi setelah sekian kali mengikuti psikotes, tak kunjung lulus, tak kunjung diterima kerja alias tidak diterima. Kira-kira bagaimana perasaannya?
Tentu sangat kecewa, sedih, bahkan bisa jadi nglokro yang berkepanjangan. Hal ini bisa dianggap wajar ketika seseorang tadi belum mengetahui beberapa kaidah dalam prefentif kekokohan jiwa. Namun menjadi tidak wajar, ketika seseorang tadi telah mengetahui kaidah dalam pengokoh jiwa.
Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi setiap diri untuk mengetahui kaidah ini. Agar tidak jatuh pada permasalahan yang seharusnya tidak perlu direspon dengan kesedihan yang mendalam. Kaidah yang keempat adalah selalu lakukan evaluasi diri. Mengapa saya selalu tidak lulus dalam mengikuti psikotes, padahal sudah sekian kali.
Evaluasi disini, jika sudah sekian kali tidak lulus, sebaiknya melibatkan ahlinya, konsultan psikologi atau psikolog. Biasanya, seseorang yang selalu tidak diterima, terkait dengan ketidaktahuannnya akan arti penting psikotes, potensi dirinya, atau tidak pernah mengetahui hasil dari psikotes yang selama ini ia ikuti. Akhirnya selalu meraba-raba diri dan boleh jadi mengulangi kesalahan yang sama.
Untuk mengetahui penyebab ketidaklulusannya, maka lakukan evaluasi secara berkala dengan ahlinya. Pasti akan ketemu penyebabnya, walhasil sukses menemukan potensi diri untuk berkiprah pada lapangan pekerjan yang sesuai. Pegawai, pengusaha atau investor bahkan owner perusahaan. Silakan mencoba kaidah ini. Saya yakin pasti berhasil, insyaALLAH. Wallahu a’lam.***

2 responses to “Lakukan Evaluasi (2.5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s