Seri : NIKAH DINI-ku

Solusi Tepat Untuk Sukses
Foto-ku usia 31
Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli*

TERBAYANG oleh kita betapa bahagianya seorang yang baru saja melangsungkan ritual sakral, pernikahan. Terlebih lagi jika yang menikah, diri kita sendiri. Betapa ‘sumringah’ hati kita, tatkala me-lafaz-kan ijab qobul dengan lancar tanpa diulang dengan disambut doa para tamu undangan melalui ucapan “barokallahu laka wabaroka alaika…”.
Ingatan kita saat pengucapan akad nikah dihadapan penghulu KUA pasti sangat kuat. Bahkan pada zaman sekarang, agar ingatan itu terus dikenang sampai tua, tidak sedikit bagi yang berduit mengabadikannya dengan video shooting. Jadi Raja dan Ratu dalam semalam, pusat perhatian hadirin, juga pusat gosip media massa. Waah asyiknya, bagaimana rasanya ya? Bagi yang sudah menikah pasti pernah merasakannya. Makanya, nikah aja selagi muda.
Masyarakat kita adalah masyarakat yang berbudaya, makanya segala sesuatau yang terkait dengan nilai sakral pasti ada tuntunannya, aturan mainnya, hitung-hitungannya, syarat-syaratnya bahkan seabreg ‘ketebelece’ yang harus dipenuhi, termasuk pernikahan. Jangankan pernikahan, memasang kuda-kuda rumah saja ada hitungan harinya sampai jenis makanan ‘gasan’ syukurannya. ‘Iya kalo?’.
Pernikahan, bagi sebagian besar masyarakat banua kita adalah sesuatu yang harus dirayakan, dipublikasikan, dibiayai dengan uang yang ‘tidak boleh sedikit’ alias ‘larang’. Kalau perlu harus dipaksakan ada, artinya walaupun tidak ada uang banyak, ya diada-adakan entah bagaimana caranya, ngutang atau jual tanah mungkin.
Tidak sedikit mereka yang tidak kaya, dipaksakan harus kaya mendadak kalau mau melangsungkan pernikahan. Jujuran, pasti harus ada. Uang perayaan, apalagi, jelas tak kalah pentingnya. Bagi yang tidak punya rumah besar dan bagus, ya menyewa gedung aula. Kalau rumahnya kecil, disulap jadi besar dengan memakai fasilitas umum jalan raya atau rumah tetangga, misalnya. Warna gemerlap sebuah keniscayaan dalam pernikahan, siapapun orangnya.
Hal tersebut di atas adalah normal dan wajar, bagi setiap budaya yang ada di masyarakat tertentu semua strata. Tapi, bagaimana jika pernikahan itu adalah pernikahan dua insan yang muda belia, berusia remaja, minimal remaja akhir ditinjau dari kacamata rentang usia secara psikologi perkembangan. Kira-kira apa pendapat masyarakat manusia, dewasa ini? Positif ‘kah, negatif ‘kah. Saya ambil kesimpulan, negatif.
Mulai dari tuduhan yang wajar sampai pada sangkaan yang membabi buta, parahnya. Hamil duluan, ingin hartanya, keturunan ningrat alias darah biru, dipelet, diguna-guna, kolot dan lain sebagainya. Salut untuk mereka yang berprasangka positif, saya yakin belum banyak. Anggapan masyarakat kita, hal tersebut adalah baru, yang perlu diwaspadai. Pernikahan yang belum saatnya, seakan dipaksakan yang menurut mereka akan menyusahkan berbagai pihak, mulai orang tua kedua mempelai sampai pembuat undang-undang pernikahan yang ada di negara kita.
Wajar, mereka belum tahu nilai strategisnya pernikahan yang dilangsungkan pada saat rentang usia muda belia, yang sering kita sebut sebagai pernikahan dini. Imej negatif masyarakat, salah satu penyebabnya adalah fenomena realita yang sering terjadi pada serangkaian upacara pernikahan, mempelai wanitanya sudah ‘berperut ganal’ duluan. Ditambah lagi beberapa tontonan sinema elektronik, sinetron, yang mendramatisir sebuah pernikahan dini antar dua manusia belia, seakan-akan repot segalanya, susah segalanya, bingung segalanya, dadakan segalanya, jadinya yang nonton pun ikut pusing.
Eeeh…boro-boro yang nonton, yang denger cerita dari tetangga atau teman pun, ikut pusing tujuh keliling. Kenapa bisa begitu? Iya lah, namanya juga sinetron. Terang saja, pernikahan dini yang tidak direncanakan!. Wajar kalau kacau balau. Tetapi masih mending jika dua pasang manusia muda belia ini, bisa learning by doing dalam hal positif saling mengisi dan mempelajari pernak-pernik pernikahan dini. Walhasil, boleh jadi sukses.
Kenapa saya bilang bisa sukses, ya karena saya tahu dengan pasti pernak-pernik pernikahan dini, lha wong saya termasuk pelaku pernikahan dini, nikah pada usia 22 tahun istri dan 23tahun saya, bahkan pernah menjadi bintang tamu dalam seminar sehari tentang NIKAH DINI di Jogja yang dihadiri manusia muda belia, mahasiswa, dan dosen dari beberapa perguruan tinggi area selatan. Saat menjadi bintang tamu, kami baru mempunyai anak satu dan istri hamil muda. Tapi pernikahan dini yang memang direncanakan lho. Begitu lulus dan wisuda, kami menggendong dua orang generasi penerus, anashir-anashir tahgyir alias calon agent of change sang pembaharu.
Yang ingin saya katakan, tidak semua pernikahan dini itu jelek, baik yang direncanakan maupun yang tidak direncanakan, asalkan bukan MBA, maried by accident, tetapi nikah dengan sebuah kesadaran penuh akan makna pernikahan yang hakiki. Urusan dirayakan secara mewah atau mewah sekali, dirumah atau di gedung aula megah, mengundang artis terkenal atau artis kampungan, dihadiri oleh sepuluh atau seribu tamu, pakai jujuran atau ‘kejujuran diri’ tidak punya modal alias modal dengkul, itu tidak jadi masalah pokok.
Coba kita lihat, beberapa kelompok masyarakat yang sudah mulai tergugah untuk menikahkan buah hatinya saat mereka masih diusia belia, taruhlah duapuluh tahun atau duapuluh lima tahun. Kebanyakan dari mereka yang notabene pioneer pernikahan dini berjilbab besar dan berjenggot sedikit, mungkin dari kalangan agamis atau memang kebetulan saja berjilbab atau berjenggot. Tapi, mari kita bandingkan prosentase antara pernikahan belia yang direncanakan matang, yang bercerai dengan pernikahan lanjut atau reguler yang berakhir cerai. Bagaimana menurt Sampeyan?
Banyak public figure yang menikah, tak lama kemudian bercerai. Eh baru mengikrarkan ijab qobul selepas itu langsung gugat cerai, apa-apaan ini. Pernikahan kog dibikin sensasi, pamali. Padahal, kalau kita mau menikah saat usia muda belia, banyak sekali nilai keuntungannya lho. Satu, secara fisik masih kuat, tenaga kuda, tidak mudah letoy, ha..ha..ha. Artinya, saat kita mempunyai anak, taruhlah lima anak, ‘behalat’ satu sampai dua tahun, saat anak-anak kita memasuki masa remaja, yang memerlukan partner sejati dalam kasih sayang persiapan menghadapi dunia nyata, kita masih berusia tiga puluhan!. Nah, masih kuatkan? Mau adu panco, bisa. Mau adu lari cepat, sprinte dengan anak, bisa. Mau adu cepat dalam berenang seratus meter, bisa. Mau jadi group gasan pertandingan bola voli keluarga, juga bisa. Bahkan bergulat pun, kita masih kuat dan bisa. Kalau tidak disebut sukses, lalu apa namanya.
Dua, secara psikis dorongan-dorongan nafsu manusiawi baik yang negatif maupun positif, segera tersalurkan secara moral, benar dan tidak terhambat. Tahapan dalam menunaikan tugas perkembangan cenderung normal dan sesuai. Yakni tugas perkembangan mulai dari aktualisasi diri terkait keilmuan, mencari pasangan hidup, mencari nafkah, penyesuaian dengan pasangan, mengasuh anak, hidup dengan masyarakat sosial, menyalurkan hasrat manusiawi, sampai pada kebermaknaan hidup. Nah, jelas enak bukan? Seluruh potensi tersalurkan secara normal sesuai tahapan tugas perkembangan usia, saling membantu antar dua insan belia menggapai cita-cita. Kalau bukan sukses, lalu apa namanya.
Padahal, jika dorongan nafsu yang kuat pada masa muda tanpa tahu ilmu menyalurkannya secara benar, akibatnya fatal. Masa depan suram, terjerumus ke‘lembah hitam’. Hal ini, menjadi budaya yang sudah merajalela dikalangan generasi muda kini. Ya nge-seks, free-sex, nge-pil koplo, nenggak miras, perkosaan, vandalisme, kebut-kebutan, pencurian, perampokan, bahkan judi sampai perkelahian antar remaja atau anak muda. Coba bayangkan, begitu membahayakan bukan?
Tiga, secara agamis jelas sesuai syar’i alias hukum yang dibuat oleh-Nya. Terhindar dari perbuatan mendekati zina, pacaran ala perancis, misalnya. Seluruh aktivitas pacaran pasca nikahnya, berpahala sangat besar. Mulai dari menyapa namanya, membelai rambut, mencium kening dan seterusnya adalah mengandung nilai ibadah yang tinggi dan tidak diberikan kepada insan belia yang mendekati zina. Coba renungkan, kalau bukan sukses lalu apa namanya.
Empat, ditinjau dari segi kesehatan, apalagi, pasti sangat aman dan sangat dianjurkan untuk melahirkan sebelum usia lanjut. Asalkan sekali lagi, direncanakan secara matang, maaf saya ulang-ulang, supaya lebih mantap. Seluruh anggota badan, organ tubuh internis maupun eksternis, jelas memenuhi standar kesehatan. Apalagi namanya, kalau bukan sukses.
Lima, finansial anak muda tidak bertele-tele, dengan penghasilan yang pas-pasan masih bisa untuk berbuat banyak bagi kelangsungan pernikahan awal. Toh tuntutan hidup belum begitu memakan biaya besar, kalaupun perlu biaya besar, mulai dari tenaga, intelektual, keterampilan, ketahanan berusaha masih bisa diandalkan. Menikah tidak harus segalanya ada duluan, tapi sesuatu yang belum ada bisa diadakan pasca pernikahan untuk dilengkapi.
Enam, secara waktu. Menikah saat berusia belia, kita bisa menyelesaikan tugas perkembangan dengan normal, artinya akan banyak tugas lain yang lebih besar akan segera  diraih. Misalnya, menunaikan ibadah haji saat muda, menjabat sebagai public figure, walikota, gubernur, bahkan presiden partai sampai presiden negara. Apalagi namanya kalau bukan sukses.
Oleh karena itu, wahai saudara mudaku, bersegeralah menikah sebelum terlambat meraih kesuksesan. Pernikahan dini, kunci sukses yang hakiki.***

* Psychologist Consultant & Owner
MITRA SOLUSI Banjarbaru
http://www.irsanfinazli.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s