3.3 Psikotes Klinis

“Psikolog tidak berhak memberikan treatment obat, artinya klien yang masih dalam taraf normal atau gangguan saja yang menjadi ladang garapan psikolog” (Ahmad Nur Irsan Finazli)

Serangkaian proses psikologis dilakukan untuk menolong klien di rumah sakit jiwa, mulai dari mendiagnosa melalui observasi, wawancara, terapi obat, bahkan sampai psikotes, demi satu tujuan terdiagnosanya gangguan dari si klien tadi. Gangguan jiwa atau sakit jiwa, pada stadium tertentu dapat diputuskan sehingga treatment dapat dilakukan dengan tepat.

Benarkah psikotes diperlukan untuk pasien dengan gangguan jiwa? Sudah tahu gangguan, kok dites segala, kerjaan orang yang kurang kerjaan. Bagaimana sebenarnya letak peran psikotes itu?. Banyak diantara kita yang belum mengetahui peran psikologi bagi rumah sakit jenis ini.

Perlu saya jelaskan disini, bahwa peran psikologi ada beberapa bagian. Antara lain pemberian treatment obat, treatment perilaku, treatment wawancara dan observasi. Dari beberapa peran ini terbagi menjadi dua profesi yang bisa menjalankannya, psikolog dan psikiater.

Psikolog sebagai pemberi treatment perilaku, wawancara dan observasi. Sedangkan treatment obat adalah peran dari psikiater, selaku dokter yang mengambil spesialis kejiwaan. Artinya, psikolog dan psikiater adalah berbeda namun dalam satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dalam kasus gangguan jiwa di rumah sakit jiwa. Lalu, psikotes merupak peran dari siapa? Psikotes adalah peran dari psikolog, dialah yang menentukan diagnosa seseorang terkena gangguan atau sakit jiwa. Psikolog menggunakan treatment tes-nya, psikotes. Dapat mendiagnosa seseorang normal atau gangguan bahkan sakit jiwa. Juga menetukan perlu dirujuk ke psikiater atau cukup psikolog saja.

Psikolog tidak berhak memberikan treatment obat, artinya klien yang masih dalam taraf normal atau gangguan saja menjadi ladang garapan psikolog. Dengan kata lain, jika klien masuk kategori berat alias sakit jiwa menjadi penanganannya psikiater. Treatment-nya sampai pada pemberian obat penenang dan dirujuk pada rumah sakit jiwa untuk dipondokkan.

Psikotes adalah salah satu alat diagnosa gangguan maupun sakit jiwa. Ingat, psikotes tidak melulu menggunakan alat tes, namun dengan wawancara dan observasi merupakan psikotes juga. Ada alat tes yang bisa digunakan untuk mendiagnosa gangguan jiwa, antara lain tes Ro, TAT, dan lain-lain. Psikotes akan memberikan informasi seseorang yang sedang terganggu jiwanya atau tidak.

One response to “3.3 Psikotes Klinis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s