Psikologi Menulis, Lahan Dakwah

berdo’a ba’da sholat Dhuha
TERNYATA menulis bisa menjadi sebuah lahan dakwah bagi kita, terbukti tidak semua kalangan masyarakat bersedia menghadiri acara-acara keagamaan yang diadakan baik oleh masjid, musholla maupun kelompok-kelompok pengajian. Inilah kenyataan yang terjadi di masyarakat kita, yang memang terjadi dihampir setiap belahan bumi Allah SWT. Toh, segmen dakwah ilallah sebenarnya bagi semua kalangan tetapi belum tentu mereka mau menerimanya atau mau mengikuti secara seksama.
Disinilah letak strategisnya dari sebuah tulisan sebagai media dakwah untuk merebut segmen yang ‘sulit’ menerima dakwah via ceramah atau pengajian. Boleh jadi mereka bisa tersentuh dakwah melalui tulisan dakwah. Ya, inilah tugas kita. Artinya kita harus memulai membiasakan diri untuk menuliskan beberapa materi terkait taujih atau apa saja yang bermuatan mendakwahi masyarakat.

Perlu antum ketahui dalam perspektif anthropologi menyatakan bahwa penggunaan bahasa tulis berbanding lurus dengan tingkat peradaban suatu komunitas masyarakat. Artinya semakin intensif suatu komunitas masyarakat menggunakan bahasa tulis dalam menuangkan gagasan ide terkait pemenuhan hajat hidupnya, maka semakin tinggi pula tingkat peradaban mereka. Berbeda dengan masyarakat yang masih primitif, berdasarkan cerita sejarah nih, mereka dalam memenuhi hajat hidupnya hanya dengan bahasa lisan alias ‘ngomong’ saja. Tak lebih dari itu.

Nah, marilah kita tinjau kehidupan komunitas kita baik sebagai masyarakat, partai dakwah, bangsa, bahkan umat manusia. Termasuk dimanakah golongan kita, masyarakat primitif-kah atau berperadaban tinggi?. Tafadhol, antum lebih paham dengan komunitas antum.

Alasan yang paling utama mengapa seorang muslim harus menulis adalah ingin mengikuti jejak Rasulullah SAW dan para ulama besar. Menulis sebagai sarana dakwah dan beramal sholeh. Allah SWT sangat menghargai dunia tulis menulis, penghargaan tersebut terdapat dalam Al-Qur’an surat Al-Qalam ayat 1 yang artinya: “Nuun. Demi qalam (pena) dan apa yang mereka tulis”. Saya juga terkesan dengan apa yang di katakan salah seorang ulama besar sekaligus penulis Imam Syahid Hasan Al Banna, bahwa seorang muslim haruslah sama baiknya dalam hal membaca dan menulis.

Alasan lainnya, usia tulisan lebih panjang dibandingkan dengan penulisnya. Lihatlah para penulis besar, mereka telah iada tapi hasil karya buah pikiran mereka masih hidup sampai sekarang bahkan nanti. Semoga antum fillah tergerak untuk segera memulai dakwah lewat tulisan. Bagi yang sudah menulis, teruslah menulis dan bikin rencana untuk membukukannya. Tuliskan apa yang kamu lakukan, lakukan apa yang kamu tuliskan karena antum adalah seorang da’i tauladan umat.

Wallahua’lam.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s