Fosil Indonesia-ku

KEMERDEKAAN Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada Agustus tahun 2010 nanti telah memasuki usia 65 tahun. Kalau kita perhitungkan berdasar rentang usia manusia, maka Indonesia sudah memasuki lansia alias lanjut usia. Masa ini merupakan rentang masa bijaksana, penuh pengalaman, bisa melihat kekurangan diri dan memperbaiki hal-hal yang kurang pas pada masa-masa sebelumnya sehingga seharusnya terkesan kedewasaannya dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam hal ini kehidupan bernegara.
Boleh kita lihat, aktivitas pembangunan secara fisik ada dimana-mana, mulai dari infrastruktur sampai pada proyek-proyek mercusuar yang memperlihatkan sebuah jati diri negara beradab. Bahasa mudahnya, pembangunan fisik sukses, walaupun banyak kekurangan disan-sina. Tapi paling tidak animo pemerintah dan rakyat dalam membangun Negeri Indonesia secara fisik lumayan bergairah. Menjelang akhir tahun, bisa dipastikan banyak sekali proyek yang dikerjakan. Mulai dari tambal sulam jalan aspal, perbaikan jembatan, sampai pada pengaspalan jalan baru yang memakan biaya yang tidak sedikit.
Mari kita tengok kebelakang, selama hampir 62 tahun lamanya, berapa program-program pembangunan yang terkait moral, mental, ruhani, akhlak, psikis, atau jiwa dari masyarakat yang disebut sebagai rakyat Indonesia. Proporsinya bisa kita lihat dalam berkehidupan bernegara, semisal alokasi dana pendidikan, wabil khusus dari alokasi tersebut berapa yang digunakan murni untuk sebuah program peningkatan aspek moral atau jiwa. Saya kira Sampeyan lebih tahu.

Para pendahulu -muasis- kita, mempunyai sebuah semangat dalam membangun Indonesia pasca kemerdekaan, adalah bisa tercermin dari syair lagu penyemangat Rakyat Indonesia, Indonesia Raya. Begini potongan syairnya, “Bangun-lah jiwanya bangunlah badannya, untuk Indonesia raya”.

Nah, semangat yang coba dibangun oleh para muasis pendiri negeri kita adalah semangat arah dalam pembangunan, bangun jiwa-nya terlebih dahulu, baru badannya. Dengan kata lain, semestinya kita mendahulukan membangun moral dari negeri kita, yang nota bene penduduknya adalah manusia yang mempunyai jiwa dibandingkan aspek-aspek yang lain. Termasuk disini infrastruktur, bukan berarti arah pembangunan total hanya pada aspek moral saja, hanya saja proporsional.

Coba perhatikan, bagaimana perangai anak-anak bangsa kita, kenyataan yang setiap kali muncul dalam kehidupan keseharian, para pemuda atau remaja kita berperangai vandal-merusak-, entah merusak diri sendiri ataupun merusak fasilitas umum. Tembok gedung fasum mana yang aman dari tangan jahil para pelaku vandalisme, mulai kolam renang, GOR, halte angkutan umum, sampai tempat sampah pun tak luput dari aksi para penyandang gelar peer group vandal. Bahkan saat lulusan sekolah, mereka rela menyemprotkan cat ke baju bahkan rambut mereka, yang hal itu merupakan mahkota keindahan manusia.

Mereka menamakan dirinya sebagai gangster, berlabel macam-macam nama, dimana arti dari nama gangter-nya tadi bisa dipastikan mengarah pada simbol-simbol negatif. Hidup dipinggir-pinggir jalan, berkerumun, berseragam sebagai ciri group-nya serta memiliki kebiasaan tertentu sebagi ritualnya, semisal mengonsumsi narkoba. Ini menendakan, bahwa anak-anak bangsa kita dicekam rasa takut, was-was, ragu-ragu terhadap masa depan mereka. Perlu diketahui, ini tidak hanya dikalangan para remaja saja, tapi sampai pada manusia yang berstatus sebagai manusia dewasa, bahkan lansia mungkin.

Ini hanya sekelumit saja mengenai beberapa kemerosotan moral dari negeri kita, Indonesia tercinta. Belum lagi berbagai tayangan ditelevisi tentang berita kriminal, hampir setiap hari tidak pernah luput dari berita pembunuhan sesama anak bangsa, meskipun penyebabnya hanya masalah sepele sekalipun. Coba Sampeyan renungkan, kalau bukan merupakan profil anak-anak negeri kita, lalu apa?.

Zaman dulu, pernah ada Kerajaan Sriwijaya, Majapahit yang sungguh termasyhur di seantero bumi ini, tetapi saat ini hanya tinggal nama, sejarah saja yang bisa kita nikmati dalam beberapa pelajaran atau mata kuliah Sejarah, bahkan mungkin bahasa agak kasarnya boleh disebut sebagai fosil atau mungkin artefak.

Hal ini bisa jadi, akan terjadi pada negeri kita, dinyatakan bahwa pada zaman dulu pernah ada yang namanya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Nah, ini bisa saja terjadi 32tahun lagi, seratus tahun, dua ratus tahun, atau hanya tiga ratus tahun saja. Tidak menutup kemungkinan, ini benar-benar akan terjadi pada negeri kita. Dengan syarat, jika para pemegang kekuasaan tidak mengindahkan apa yang diperintahkan Allah SWT agar memelihara dan mengelola bumi ini secara baik dan amanah.

Artinya, para pejabat pemegang kekuasaan sebaiknya tidak memperkaya diri sendiri dengan cara asal kelola yang penting jadi duit. Penganggaran asal-asal saja yang penting saku tebal, bisa foya-foya. Ingat, sampai pada sebuah puncak –titik nadir-, manusia yang bermoral bejat pasti akan lari ke hal-hal yang negatif, semisal obat-obat terlarang. Terlalu banyak kasus jika kita sebutkan disini, iya khan?.

Mari sesama anak bangsa kita berbenah diri, posisikan diri kita pada posisi seharusnya, kerjakan apa yang menjadi porsi kita, pahami kedudukan kita, dimana kita berada, siapa diri kita, dan yang terpenting apa kontribusi kita untuk membangun Negeri Indonesia. Jangan sampai NKRI menjadi fosil di zaman sekarang dan yang akan datang.
Wahai sesama anak bangsa, para pemuda, mari kita ambil jatah porsi kita untuk membangun NKRI pada umumnya dan Banua tercinta pada khususnya, dengan sebuah tatanan yang proporsional, terlebih lagi bagi para pemegang kekuasaan. Bangun-lah jwanya, bangunlah badannya, hiduplah Indonesia raya…Merdeka, Allahu Akbar.***

*Psychologist Consultant
MITRA Solusi Banjarbaru

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s