Bab.2.2 Dakwah Wali Rakyat-ku

Oleh : Ahmad Nur Irsan Finazli

MENJADI Anggota DPRD merupakan jabatan publik yang sangat terhormat, prestisius. Betapa tidak, dalam ajang pemilu lima tahunan selalu diperebutkan oleh para politikus berbagai partai politik. Mulai dari parpol besar sampai gurem bahkan partai bentukan baru yang sangat gurem. Semacam menjadi medan laga para pencari jabatan publik.
Bersyukurlah bagi Sampeyan yang tidak mempunyai cita-cita sebagai Anggota Dewan, karena kata orang, di gedung dewan itu tempat bersarangnya para penyamun. Penyamun proyek, tipu-tipu alias penipu, koruptor, penebar janji. Yang jelas mereka itu kotor. Dan se-abreg stigma kotor yang disandangnya.

Lepas jadi anggota DPRD masuk penjara, menjadi hal yang lumrah bagi mereka yang merencanakan. Boleh jadi memang bersalah atau karena kebodohannya sendiri, jebakan misalnya. Atau karena memang merencanakannya untuk bermain proyek sana-sini, dapat sogokan amplop tebal tak bertuan. Jadi, memang label kotor sebagaimana borok dalam tubuh, menjadi hal yang include dari para anggota dprd yang tidak lain adalah wali rakyat.

Terus bagaimana sebenarnya alasan pokok masuknya para da’i ke gedung dewan dari beberapa partai yang mengaku mengusung panji-panji Islam dalam asas partainya. Sudah tahu kotor kok malah diceburi, ya jelas ikut jadi kotor. Minimal kecipratan kotoran. Sebagaimana kita bergaul dengan pandai besi atau penjual minyak wangi, kita kena imbasnya juga.

Berbagai macam alasan yang bisa kita dapatkan mengapa mereka memilih terjun didunia politik praktis. Mulai dari alasan yang bisa diterima rasio sampai pada argumen yang melangit religius tapi membumi alias bisa diterima akal sehat manusia.

Saya kagum kepada salah satu partai Islam yang komitmen terhadap keislaman yang melangit tetapi membumi dalam aplikasi. Sebut saja Partai Keadilan Sejahtera, mereka mendeklarasikan diri sebagai partai dakwah berasas Islam. Pionir partai yang berasas Islam, sehingga berkahnya banyak dirasakan dan diikuti partai lain yang berlatar belakang Islam, seperti PBB dan PPP.

Alasan mengapa PKS masuk ke ranah politik praktis, ya karena mereka mengetahui kebobrokan anggota DPRD yang semakin mengganas. Penyakit borok yang kronis, yang terjadi sejak puluhan tahun yang silam. Yang tak pernah kunjung tersembuhkan, bahkan semakin tambah parah seiring dengan bertambahnya usia negara Indonesia ini.

Alasan kedua, untuk lebih mengetahui borok apa yang sebenarnya sedang menyerang, mereka beranggapan harus masuk ke dprd, tidak bisa tidak, harus. Sehingga ada semacam nilai-nilai yang berlaku bagi setiap kader PKS yang masuk sebagai anggota dewan, “mimbar-mimbar dewan adalah mimbar dakwah  tempat menyeru para bagi para da’i”. Haram masuk dewan kecuali untuk menyerukan kebaikan dan kebenaran.

Tatkala mengetahui tingkat kekronisan borok DPRD, mereka menentukan langkah jitu memerangi penyakitnya. Karena salah-salah, borok bisa semakin meluas dan mengakar dalam. Bagaimana mungkin bisa mengetahui secara rinci penyakit borok di dprd jika kita tidak ada di sana, masuk disana, sebagai pelaku aktif yang mengikuti seluruh kegiatan dan gerak-gerik serta pernak-pernik anggota dprd.

Ya sebutlah  mulai dari masa persidangan sampai pansus dan kunker, bahkan permainan proyek yang perlu diketahui secara mendalam. Lain kata jika demikian adanya, artinya wajib bagi setiap kader untuk jihad siyasi melalui gedung dprd.

Alasan ketiga, yaitu bahwa PKS ingin memerankan aspek kontrol dari tugas sebagai legislatif secara benar. Apa jadinya jika gedung DPRD isinya hanya orang-orang hanya menguntungkan pribadinya dan kelompoknya saja. Serempak teriak setuju tatkala keputusan dan kebijakan yang diambil atau Undang-Undang yang disahkan menguntungkan dirinya dan kurang berpihak pada kepentingan rakyat banyak.

Ketika ada kekuatan kebaikan dan kemunkaran di DPRD, maka akan lain kisahnya. Pertarungan demi pertarungan al-haq dengan kemunkaran, maka akan terasa lebih ramai permainan di dunia ini. Memang tugas kita sebagai seorang da’i adalah menyeru mereka agar bisa mengikuti dalam barisan kebaikan. Minimal mereka tidak menghalangi gerak dakwah kita, syukur-syukur ikut aktif dalam gerakan kebaikan. Wallahu a’lam.***

4 responses to “Bab.2.2 Dakwah Wali Rakyat-ku

  1. ketika tabiat dakw’wah hanya jadi slogan belaka, di gedung dewan sama saja (berdasarkan silaturahim dgn para pelaku politik di banjarbaru selama setahun belakangan ini)

  2. Betul Mas Soni, kalo hanya sebagai slogan saja itu namanya sama saja…. jas buka’ iket blankon, nggih boten?
    InsyaALLAH PKS Partai Dakwah, bukan hanya slogan. silaturahim ke mana aja mas?

    Fastabiqul khairat…!
    Tawashaw bil haq wa bish-shobr, wal marhamah… insyaALLAH.
    La Tahzan, mas.

    Syukron atas masukannya.

  3. inggih mas, yang belum tinggal ke pks mas…, mugo 2011 peyan ketua partaine…kita putihkan banjarbaru 2014 dab…hehehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s