Psikotes, IQ aja kah…?

4.1 Tes Kecerdasan atau Tes IQ
Marilah kita mengupas tentang tes kecerdasan atau sering disebut dalam bahasa populer sebagai tes IQ. Dalam dunia psikologi dewasa ini tes kecerdasan sangat menjadi idola bagi seluruh kalangan. Mulai dari segmen pendidikan, industri, klinis, bahkan sampai pemerintahan. Tak terkecuali kalangan militer, sekali pun. Untuk saat ini akan kita kupas satu persatu segmentasi ini.

4.1.1 Segmen Pendidikan
Pernah mendengar tes seleksi masuk SD Unggulan? Bahkan Taman Kanak-kanak pun juga tak mau ketingalan menggunakan tes seleksi. Mereka mengunakan apa yang disebut sebagai psikotes. Entah itu benar atau tidak yang  penting namanya psikotes.
Psikotes di bidang pendidikan sering digunakan untuk mengukur tingkat kecerdasan calon siswa, yang nantinya akan dipakai guna menentukan peringkat kelulusan seleksi calon siswa. Dasar yang dipakai adalah skor psikotesnya atau skor IQ. Lalu, bagaimana sebenarnya pandangan ahli psikologi dewasa ini mengenai psikotes bagi penerimaan calon siswa.
Tak dipungkiri, sebagian dari ahli psikologi masih berpandangan bahwa psikotes sangat relevan untuk menyeleksi calon siswa. Hal ini didasarkan pada pengalaman dan penelitian secara empiris yang membuktikan bahwa agar terjadi kesesuaian antara bahan ajar dengan siapa yang diajar. Juga siapa yang tepat untuk mengajarkan alias guru, maka dilaksanakannya psikotes ini.

Ada pengalaman sangat berharga, ketika sekolah tidak melaksanakan seleksi calon siswa dengan menggunakan psikotes. Hal yang terjadi adalah sekolah merasa kecolongan ketika siswanya mengalami kesukaran dalam belajar. Kesukaran yang akan menghambat siswa dan pihak sekolah. Mulai dari tinggal kelas alias tidak naik kelas sampai harus mengulang dua tahun dikelas yang sama.

Tak sedikit sekolah yang merasa kecolongan seperti kasus di atas. Karena bahan pertimbangan mereka kurang mempertimbangkan aspek psikologisn dari caon siswa. Boleh jadi, sekedar kedekatan domosili dengan geografi sekolah dan tempat tinggal calon siswa semata sebagai satu-satunya patokan. Memang hal ini tidak salah.

Apa sebenarnya yang diungkap dalam psikotes untuk segmen pendidikan ini? Bagaimana korelasinya dengan keberhasilan pendidikan dengan tingkat kelulusan? Mari kita buka per-aitem. Penerimaan calon siswa, dengan melihat kenyataan seringnya terjadi “kecolongan siswa”  membuat pihak sekolah merasa sangat memerlukan cara seleksi siswanya menggunakan psikotes. Artinya, psikotes untuk segmen pendidikan dasar, sangat dibutuhkan.

Yang diungkap dari seleksi calon siswa ini adalah terkait dengan kapasitas kecerdasan, pola hubungan sosial anak, dan juga kemandirian dari calon siswa tersebut. Pertama, kapasitas kecerdasan sangat diperlukan guna mengetahui standar penerimaan atau daya tangkap siswa terhadap bahan ajar yang nantinya akan diberikan.

Maksud saya, untuk setiap posisi apa pun memang memerlukan batasan minimal dari kapasitas kecerdasan ini. Artinya, untuk mengklasifikasikan atau menggolongkan mana anak yang cocok untuk kelas unggulan, kelas akselerasi, maupun kelas reguler, bahkan kelas anak dengan kebutuhan khusus, diperlukan psikotes. Meskipun anak dari kalangan pejabat, jika kapasitas kecerdasannya kurang pas pada kelompok pendidikan akselerasi, ya tentu dia tidak bisa berada di sekolah tersebut.

Kenapa tadi saya sebut dengan batasan minimal, karena untuk kelas reguler itu sangat berbeda penangannya dengan anak luar biasa cerdasnya. Penanganan dalam arti cara dan bahan ajar yang menentukan kecepatan siswa mengkuti pendidikan. Dikhawatirkan akan mengganggu keberadaan siswa yang lain seandainya tetap dipaksakan masuk pada kelas yang tidak sesuai. Lha wong, cocoknya di kelas reguler malah dimasukkan kelas akselerasi. Siswa maupun pihak sekolah tentu akan ada permasalahan. Kita lihat, di Indonesia sering terjadi latah seperti ini, ‘mee to’. Di kota lain ada kelas akselerasi, dikota kita juga harus ada dhong.

Bagaimana jika yang terjadi, calon siswa ini tidak cocok untuk seluruh kelas yang disediakan oleh sekolah, artinya dia tergolong anak dengan special needs. Atau dengan kata lain anak ini IQ-nya dibawah rata-rata dan terindikasi idiot. Jelas, pihak sekolah akan menyarankan agar dimasukkan dan diberikan pendidikan sesuai dengan kebutuhannya, yakni di special needs school. Tentu setelah dilakukan beberapa tahapan diagnosa psikologis secara benar dan terpadu antar profesional dibidangnya.

Berkaitan dengan korelasi tingkat kelulusan, psikotes adalah alat prediksi tingkat keberhasilan calon siswa nantinya ketika mendapatkan treatment atau perlakuan di sekolah. Artinya, hasil psikotes yang salah satu tujuannya untuk mengklasifikasikan tingkat kecerdasan siswa ini, sangat ada korelasinya. Semakin tinggi nilai keakuratan dari psikotes sebagai alat ungkap, maka akan semakin tinggi pula tingkat keberhasilan penerimaan bahan ajar yang teraplikasi dalam keseharian pendidikan dan tingkat kelulusan siswa nantinya.

Juga bisa diartikan bahwa semakin akurat dalam psikotes maka akan semakin tinggi tingkat kelulusan siswa nantinya, dengan mengabaikan sistem pendidikan. Nah, inilah kenapa psikotes sangat dibutuhkan oleh segmen pendidikan. Psikotes akan memberikan informasi mengenai data calon siswa mengenai keadaan pribadi siswa. Mulai dari kapasitas kecerdasan yang terungkap melalui skor nilai IQ, tingkat kemandiriannya, dalam arti kesiapan menerima pelajaran. Juga kondisi kejiwaan siswa mengenai sehat tidaknya atau ada gangguan tidaknya. Kalau saya menyebutnya, kita mendapatkan citra diri dari calon siswa tadi.

8 responses to “Psikotes, IQ aja kah…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s