SDIT Mencetak Generasi Robbani

MENJAMURNYA sekolah-sekolah yang berlabel sekolah unggulan, sebenarnya sangat membanggakan bagi kita selaku warga Banua. Bagaimana tidak, ini menandakan bahwa gaung pentingnya sebuah sekolah yang berbasis futuristic sangat disambut antusias oleh para pelaku pendidikan. Ada yang menamakan diri sebagai sekolah aksel alias akselerasi -percepatan-, sekolah full-day school, boarding school, atau yang sedang naik daun sekitar sepuluh tahun terakhir ini adalah sekolah Islam Terpadu. Khushushon di Banua tercinta, yang disebutkan terakhir ini, baru memasuki tahun kelima. SDIT Ukhuwah di Banjarmasin dan SDIT Robbani di Banjarbaru.

Berbicara mengenai pendidikan, dapat dipastikan tidak akan ada habisnya, berkembang terus sampai kiamat. Bolehlah kita memproklamirkan diri sebagai sekolah unggulan atau terpadu, tapi ingat harus betul-betul dipersiapkan secara matang uga rampe-nya. Jangan sampai terkesan me too saja, bahkan dengan embel-embel karena di Jawa ada ya di Banua kita juga harus ada. Nah itu yang disebut sebagai me too –ulun jua-.

Salah satu uga rampe persiapannya adalah staf pengajar yang mumpuni, standar aksel atau unggulan. Bagaimana bisa mengajar kelas unggulan, lha wong gurunya saja belum paham apa itu kelas unggulan. Lain lagi yang perlu diperiapkan adalah sarana dan prasarana yang memadai, jangan seperti kandang ayam yang hanya asal ditingkat saja kandangnya, tertutup atau diisolasi dari dunia luar alias asal dikarantinakan. Belum lagi cara merekrut calon siswanya, pembiayaan pendidikannya, dan lain sebagainya.

Pada tulisan ini, yang saya tekankan terkait seleksi calon siswa. Keseringan dari masyarakat Banua, mempercayai betul apa yang disebut sebagai Intelectual Quotient atau IQ, yang sepertinya menjadi acuan utama dari sekolah berbasis unggulan. Tetapi perlu diingat, bahwa IQ bukanlah segala-galanya untuk meramalkan kesuksesan individu kedepannya, entah saat treatment berlangsung ataupun masa depan pasca sekolah di sekolah unggulan. Karena IQ hanya menyumbang sepuluh persen saja dari keberhasilan individu dimasa depannya.

Betapa banyak individu yang cerdas pikirannya, tapi naïf sekali dengan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Mengakhiri karirnya dengan berpindah-pindah profesi oleh sebab diPHK oleh perusahaan atau PHK oleh diri sendiri, karena sebab yang sangat sepele, yakni tidak taat standar perusahaan, dia lebih suka taat dengan standar sendiri yang menurutnya lebih baik. Padahal perlu diingat, individu tadi berada pada perusahaan yang ada aturan bakunya, bukan aturan semau udelnya sendiri.

SDIT adalah salah satu sekolah dasar yang bisa dibilang mewakili sekolah unggulan yang sekarang ini mulai diminati masyarakat. SD singkatan dari sekolah dasar, sedang IT kependekan dari Isalam terpadu. Mereka sama dengan SD sebagaimana yang ada saat ini, baik negeri maupun swasta. Hanya saja menerapkan pendidikan Islam yang terpadu didalam sistem pengajarannya, artinya bagi siswa SDIT mereka sudah diajari sekaligus ajaran Islam dalam keseharian, mulai dari perilaku sampai pada fikrah dan pengamalan atau penerapan langsung ajaran Islam.

Fungsi guru adalah sebagai trainer, yang pada kelas-kelas awal, seorang guru dituntut untuk tidak mengajar secara teks book tapi diluar kepala alias menguasai penuh bahan materi yang akan diajarkan. Guru disini dituntut betul untuk menjadi teladan, oleh karena itu guru tersebut berkantor di kelas ajarnya, artinya dari mulai masuk sampai akhir pelajaran, guru bersama siswa secara terus-menerus dan intensif. Guru makan, minum, duduk, berdiri, berjalan, berbicara, menyikapi masalah-bersikap-, dan lain-lain, ya di kelas ajarnya.

Bahkan dengan bahasa yang agak ekstrim, bagi siswa SDIT tidak perlu lagi kursus atau privat bahasa Arab, Inggris, membaca Qur’an diluar sekolah. Karena di SDIT semua telah diajarkan. Bayangkan saja, waktu sekolah mereka adalah full-day school, muali jam 07.45 sampai dengan 16.00 WITA atau waktu sholat Asar. Mereka benar-benar digodog secara penuh dalam sistem yang terpadu Islami.

Siswa tidak hanya dijarkan mata pelajaran secara biasa-biasa saja, tetapi dikemas dalam bentuk training seharian, penuh dengan game-game terkait mata ajarnya. Bahkan selalu ada yel-yel sebagai pemelihara semangat. Coba saja Sampeyan datangi SDIT yang ada di Banjarmasin maupun Banjarbaru, hampir setiap lima belas menit terdengar suara pekikan yel-yel penggelora semangat.

Coba Sampeyan renungkan tulisan di atas, untuk bisa melalui sebuah proses belajar mengajar di sekolah unggulan sangat diperlukan sebuah energi extra, baik bagi guru ataupun siswanya. Artinya, dalam rekrutmen calon civitas akademika sekolah unggulan harus menjadi perhatian serius bagi pengelolanya. Maka, tes seleksi penerimaan calon siswa sekolah unggulan baik itu SDIT atau yang lain, sangat diperlukan guna mendapatkan pencitraan diri pada masing-masing individu atau anak calon peserta didik. Dalam pelaksanaan tes ini, sebaiknya menggunakan pola perpaduan atau kolaborasi antara keilmuan psikologi dan pengampu standar syarat calon siswa Islam Terpadu, dalam hal ini SDIT.

Selaku tim psikologi, yang tidak ingin ‘kecolongan’ anak-anak yang kurang pas untuk masuk di standar sekolah Islam terpadu. Sebaiknya mereka yang berkecimpung didalamnya bisa mengajak lembaga psikologi untuk berpartisipasi dalam proses ‘pencitraan’ keadaan diri calon siswa. Yaah, agar lebih optimal hasil jaringnya.

Nah, tools atau alat ungkap yang digunakan pun tidak boleh sembarangan. Kami menyarankan bahwa tools nantinya, memang bisa mengungkap keadaan citra diri si anak, ya paling tidak estimasinya mendekati keadaan sebenarnya saat ini atau saat dikenakan tes guna memprediksi keberhasilan masa depannya mampu dididik sistem Islam Terpadu.

Psikologi diberi tugas mengungkap kejiwaan anak, mulai dari intelektual, kepribadian, motorik halusnya, dan sampai pada pola kerja dan komunikasi dari si anak yang berangkutan. Kemandirian dan jiwa keagamaan bisa di ungkap oleh tim pengampu sekolah unggulan.

Dan tak lupa, orang tua dari si anak calon siswa tadi di interview guna me-cross cheque hasil tes dari anaknya. Pola asuh, sikap terhadap pendidikan anak, tipe mendidik bisa di ungkap dari interview dengan orang tuanya. Nah, dari kolaborasi ini bisa kita beri skor dengan kisaran angka tertentu yang nantinya akan kita akumulasikan sehingga muncul sebuah sekor kumulatif yang bisa mencitra diri anak tadi, sebagai bahan otodiskusi acuan cocok-tidaknya anak dididik pada sekolah unggulan, dalam hal ini Islam Terpadu. Bangkit bersama membangun Banua adil sejahtera.***

2 responses to “SDIT Mencetak Generasi Robbani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s