Wa’adamu Tawasurin-Nafsi

Kuliah Psikoterapi

“Seorang sarjana yang merasa gagal tapi tidak menerima kegagalannya,

menganggap bahwa psikotesnya tidak akurat, tidak ada gunanya tuh psikotes.

Psikotes tidak berguna dalam menentukan

kelayakan seseorang menduduki posisi tertentu, bingung membingungkan”

(Ahmad Nur Irsan Finazli)

 

ADA cara pandang yang salah mengenai apa itu sebenarnya psikotes. Tak sedikit dari mereka mengira bahwa psikotes adalah segalanya. Karena banyak diantara yang konsultasi pada rubrik psikologi, rata-rata mereka menanyakan tentang ‘kegagalannya’ menghadapi makhluk yang bernama psikotes ini.

 

Banyak sudah, korban dari pemahaman yang salah mengenai psikotes ini. Mulai dari pelajar, mahasiswa, sarjana, guru, bahkan sampai sarjana plus alias program profesi. Beranggapan bahwa tidak lulusnya psikotes atau tidak diterimanya pada jabatan tertentu yang dilamarnya adalah sebuah kegagalan yang harus disesali dengan sangat. Kalau memungkinkan sampai stres, frustasi, dan akhirnya menjatuhkan diri kelembah nista. Namun tak sedikit yang sampai pada ganguan jiwa bahkan sakit jiwa.

 

Contoh kasus, seorang pegawai perusahaan swasta yang merasa gagal dalam menghadapi psikotes promosi jabatan. Dia melampiaskannya dengan tanya sana-sini yang intinya merasa dirinya gagal total dalam menghadapi psikotes sehinggga tidak lulus. Menganggap dirinya bodoh, pecundang, tidak becus, dan seterusnya.

 

Ada lagi, seorang sarjana yang merasa gagal tapi tidak menerima kegagalannya. Dengan menanggap bahwa psikotesnya tidak akurat, tidak ada gunanya tuh psikotes. Psikotes tidak berguna dalam menentukan kelayakan seseorang menduduki posisi tertentu. Lebih-lebih kepribadian seseorang kok bisa dites hanya dengan menggambar, menjawab soal peryataan pilihan, dan dari wawancara. Alat tes-nya sama, kok bisa mengungkap hasil yang berbeda-beda pada tiap orang. Harusnya kan sama dhong, lha wong soalnya sama, berarti kepribadiannya semua orang sama, pilihan jawabannya itu-itu juga. Intinya menyalahkan psikotesnya.

 

Lain lagi dengan yang ini, tidak ingin dirinya gagal dari psikotes, maka dicarilah buku-buku tentang prediksi soal dan jawaban psikotes. Tidak hanya satu buku, puluhan buku bahkan lebih. Dan ditambah lagi dengan menghubungi psikolog tertentu dengan meminta diajari untuk bisa lulus psikotes, jika memungkinkan minta kunci jawabannya sekalian.

Bingung dan membingungkan, memang. Terutama tingkah polah para manusia ini dalam memaknai sebuah psikotes. Semoga Anda yang telah membaca tulisan ini tersadar bahwa psikotes tidaklah seperti yang dibayangkan banyak orang, sebagaimana contoh dalam tulisan di atas.

 

 

Psikotes, dalam menghadapinya tidaklah seperti pandangan di atas. Tetapi psikotes itu hanya sekedar salah satu dari alat ungkap (prediksi) pola perilaku seseorang saja. Baik prediksi perilaku kebelakang maupun  kedepannya ketika menghadapi situasi, mulai situasi pekerjaan, jabatan, profesi. Tentu saja juga mengungkap prediksi potensi diri ketika menghadapi situasi tertentu.

 

Lalu bagaimana sebenarnya kita memperlakukan psikotes ini? Jawabannya bisa Anda temukan dibuku karya saya yang sebentar lagi terbit, guna menjawab berbagai pertanyaan seputar psikotes. Tentu juga untuk memberikan pencerahan bagi mereka yang membutuhkannya, dengan sering bertanya “psikotes itu apa”.  Dengan mengambil sebuah jargon Wa’adamu tawasurinnafsi, janganlah mempersulit diri. Begitulah adanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s