Cara Lulus Psikotes untuk Anak

110110-1419“Kuncinya, kerjakan semaksimal mungkin, secepat-cepatnya, dan sebenar-benarnya,
serta hiraukan soal yang tidak bisa dikerjakan ketika waktu telah habis.
Tidak perlu disesali dan dipikirkan lagi”
(Ahmad Nur Irsan Finazli S.Psi CH CHt)

Tes IQ untuk Anak
Berbagai cara sebenarnya bisa kita gunakan dalam menjawab soal-soal tes IQ. Hak prerogratif dari peserta tes lah, letak keputusan cara menjawabnya. Lalu bagaimana dengan petunjuk atau instruksi yang ada pada masing-masing alat tes IQ. Apakah kita abaikan, ikuti, atau kombinasikan. Khusus untuk tes IQ yang diterapkan pada anak-anak.

Instruksi dari tester atau petunjuk pengerjaan dalam menjawab tes, tentu harus ditaati. Hanya saja saya fokuskan cara menjawab soal tes IQ secara prinsip. Yang harus diperhatikan adalah persiapkan Si Anak untuk siap mental dalam menjawab secara lugas dan jelas. Bahasa mudahnya segera jawab ketika ditanya, jika tesnya termasuk kategori tes verbal. Menggunakan bahasa mereka sendiri, bahasa anak. Dengan kata lain bukan hasil ajaran dari orangtua menggunakan bahasa orang tua. Tentu saja demikian juga ketika menjawab soal tertulisnya. Cara mempersiapkan anak dalam mengikuti psikotes akan dibahas pada bab selanjutnya.

Seringkali terjadi pada sebuah sesi psikotes untuk anak, bahwa orang tua ‘memaksa’ anak agar siap menghadiri dan menghadapi serta lulus tes, dalam arti nilainya harus tinggi. Jika tes tersebut adalah tes seleksi penerimaan siswa, maka anak harus lulus diterima pada sekolah tertentu. Padahal orang tua sama sekali tidak mempersiapkan mental Si Anak, jauh hari sebelum pelaksanaan tes. ‘Pemaksaan’ seringkali terjadi pada hari H dan saat tiba giliran waktu untuk dites. Sehingga, anak menjadi stres dalam tiga aspek, yakni pengendalian diri sendiri, persiapan menjawab tes, dan keterpaksaan meladeni ‘paksaan’ orang tua.

Dalam kasus tertentu, terpaksa orang tua harus ikut mengantarkan anak dengan memangku anaknya yang sedang menjalani tes. Dikarenakan anak menangis, meronta tidak bersedia masuk ruangan untuk dites. Diusahakan dengan bujuk rayu dari orangtua pun anak tak bergeming, sehingga dengan kebijakan dari pihak sekolah agar anak diantar oleh orang tuanya masuk kedalam ruang tes. Apa yang terjadi didalam ruangan tersebut?.

Sungguh mengejutkan berbagai pihak, tester maupun orang tua. Si Anak diam seribu bahasa, meskipun telah diusahakan rapport oleh tester sebagai tugasnya. Pun jika menjawab, harus dengan meminta atau mendapat persetujuan dari orangtuanya, dengan melirik dan dengan mengatakan “ini ya Pak, jawabannya?” atau “Yang mana jawabannya, Bu?”, kata anak tersebut dengan melas. Sehingga proses tes tersebut menjadi proses yang kurang cocok, sebab yang dites anaknya justru orang tuanya yang menjawab.

Kasus yang lebih ekstrim juga terjadi, orang tua ikut masuk ruangan dan duduk di sebelah si Anak. Ketika ditanya oleh tester apa jawabannya, ternyata Si Anak menjawab dengan jawaban yang salah. Serta merta orang tuanya mencubit atau bertutur dengan bahasa ketidaksetujuannya dengan jawaban anaknya tadi. Walhasil, anak merubah jawabannya berdasar tekanan dari orang tuanya. Padahal jawaban orangtua tadi belum tentu benar. Inilah dua contoh ketidaksiapan anak mengikuti tes, gara-gara orang tuanya tidak mempersiapkan.

Dua kasus di atas, mungkin Anda sudah bisa mengambil kesimpulan bagaimana cara terbaik menyiapkan buah hati kita dalam menghadapi psikotes. Namun tidak ada salahnya jika saya menyarankan para orang tua berdasar pengalaman yang saya lakukan selama menghadapi kasus seperti ini. Toh ini sebagai bahan sharing kita.

Bagaimana pun anak adalah anak dengan segala dinamikanya, bukan orang dewasa normal yang bisa dengan segera menyesuaikan diri pada kondisi tekanan. Jauh hari sebelum mengikuti psikotes, sebaiknya anak kita dipersiapkan akan mentalnya. Dalam kasu yang sempit, penerimaan siswa misalnya. Kesiapan mental atau psikis jauh lebih penting dibandingkan persiapan jawaban dari prediksi soal yang akan dihadapi anak. Kita maklum bersama, biasanya orang tua akan mencari tahu bentuk soal tes yang akan diterapkan dalam proses seleksi penerimaan siswa baru.

Mempersiapkannya seperti apa?, tentu bukan asal menyiapkan saja. Temukan jawabannya dibuku saya yang ketiga, Psikotes untuk Anak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s