Hypnotherapy for Teens

InstagramCapture_a170a1f6-01b6-4532-a379-6d74cfa9498d

Oleh : Ahmad Nur Irsan F S Psi CHt CI

 BANYAK kasus ketidakcocokan antara anak muda dan orang tua yang sering terjadi dimasyarakat kita, yang berujung pada pengusiran salah satu anggota keluarga, entah anak atau orang tuanya, yang sebetulnya tidak perlu terjadi. Ada yang mengambil jalan pintas dengan pergi tanpa pamit dalam jangka waktu yang lama, berfoya-foya dengan berpesta ‘miras’ bahkan sampai percobaan bunuh diri. Yang jika ditinjau lebih jauh mengenai masalah sesungguhnya, hanya persoalan sepele saja. Sepele dalam pandangan orang tua tetapi serius dari kacamata anak muda.

 

Salah satu contoh, orang tua yang susah menerima atau berlaku sabar dalam menangani keengganan seorang anak untuk mentaati aturan yang diberikan oleh orang tuanya. Menurut orang tuanya hal tersebut (aturan atau larangan-larangan) adalah hal yang wajar yang menurut kacamata sosial kemasyarakatan memang sepantasnya diberlakukan. Tapi dari sudut pandang seorang anak yang nota bene masih muda, hal tersebut sangat mengekang dan tidak sesuai dengan aturan main yang berlaku pada peergroup-nya atau anak seusianya.

 

Boleh dibilang ‘jadul’ alias jaman dulu yang sudah tidak match lagi dengan jaman sekarang. Orang tua bersikeras menerapkan aturan yang dibuatnya sedangkan anaknya bersikukuh pada pendiriannya yang menentang aturan tersebut. Contoh kasus, seorang anak men-cat rambutnya dengan warna selain hitam, berdandan menghias diri dengan mengenakan galang rantai dipergelangan tangan dan kakinya bahkan dompetnya pun ikut dirantai. Ditambah lagi kuping, hidung, dan lidahnya dipasang giwang perak.

 

Padahal orang tuanya menginginkan anaknya berperilaku dan berpakaian yang sopan sebagaimana dirinya dulu ketika masih muda.

 

Bila hubungan anak muda dengan orang tuanya atau anggota keluarga lain kurang harmonis, yang terjadi seperti ini, biasanya kesalahan melulu dipihak anak. Dari kacamata psikologi, kesalahan terletak pada kedua belah pihak. Seringkali orang tua menolak untuk memperbaiki konsep mereka tentang kemampuan anaknya setelah anak-anak mereka menjadi lebih besar. Walhasil akibatnya mereka memperlakukan anak muda mereka seperti ketika masih kecil. Disisi lain, orang tua tetap mengharapkan anaknya bertindak sesuai dengan usianya, terlebih lagi hal yang berhubungan dengan masalah tanggung jawab.

 

Masalah di atas sangat penting dibahas, yang dalam istilah psikologi disebut sebagai ‘kesenjangan generasi’ antara anak muda dengan orang tua mereka. Kesenjangan ini wajar terjadi, yang disebabkan oleh perubahan radikal dalam nilai dan standar perilaku yang biasanya terjadi pada setiap perubahan budaya yang pesat. Dan juga sebagian lagi disebabkan karena kawula muda sekarang memiliki banyak kesempatan untuk pendidikan, sosial, dan budaya yang lebih besar daripada masa muda orang tua mereka. Bahkan boleh disebut semata-mata hanya merupakan kesenjangan budaya saja, bukan sepenuhnya perbedaan dalam rentang usia kronologis semata.

 

Kesenjangan generasi yang paling menonjol terjadi dibidang norma sosial, seperti perilaku seksual yang sekarang dilakukan oleh para pemuda adalah perilaku yang sangat terlarang oleh orang tua pada usia yang sama. Orang tua bukanlah satu-satunya yang dipersalahkan dalam permasalahan ini, tetapi memang para orang tua juga merupakan hasil didik dari orang tuanya. Pada sisi lain perkembangan budaya, sosial kemasyarakatan pada setiap zaman pasti berbeda.

 

Pertentangan yang sering terjadi antara anak muda dengan orang tua, biasanya berkisar permasalahan standar perilaku. Dimana anak muda seringkali menganggap standar perilaku orang tua yang kuno dan yang modern adalah berbeda, sehingga anak memaksa orang tuanya agar mengikuti standar perilaku yang sedang ‘in’ saat ini alias modern.

Hal krusial lain, pertentangan seputar metode disiplin, hubungan persaingan antar saudara kandung atau sibling rivalry, merasa menjadi korban, sikap yang sangat kritis, besarnya keluarga, perilaku yang kurang matang, memberontak terhadap sanak keluarga, dan yang tak kalah pentingnya masalah palang pintu.

 

Kesempatan yang sangat luas serta keaktifan yang tinggi serta budaya permisif yang berlaku saat ini biasanya akan berakibat pada kesibukan dari anak muda yang berimbas pada pelanggaran aturan main yang diberlakukan oleh orang tua, seperti pulang larut malam, pergaulan yang bebas terutama teman lawan jenis dan sebagainya.

 

Akan lain ceritanya, jika orang tua memahami konsep pendidikan berbasis hypnosis. Namun saya lebih suka menyebutnya dengan hypnotherapy. Kesenjangan-kesenjangan tersebut di atas bisa diatasi dengan kesepahaman antara anak dengan orang tuanya. Untuk membentuk kesepahaman, orang tuanya lah yang paling bertanggung jawab. Oleh karena itu saya merekomendasikan para orang tua agar mempelajari dan menguasai hypnotherapy ini. Bahasa kerennya sih, hypnotherapy for parenting atau sering disebut sebagai hypnoparenting. Tulisan mengenai hypnoparenting, saya tulis tersendiri. Baca ditulisan saya mengenai hypnoparenting.

 

Nah, inilah terkadang yang sering dilupakan oleh berbagai kalangan orang tua, mereka memperlakukan anaknya bukan pada zamannya. Terlebih lagi tantangan masa depan pasti akan lebih berat. Hanya orang tua yang kolot-lah yang akan mengerdilkan pola pikir, pola sikap, dan pola tindakan generasi penerus bangsa ini. Orang tua yang peduli-lah yang akan men-tarbiyah anak-anaknya dengan tarbiyah religi yang istimror alias berkelanjutan serta istiqomah. Dalam bahasa hypnoparenting, itu disebut sebagai teladan dan komitmen. Sampeyan termasuk orang tua yang mana?.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s